RSS

Minggu, 10 September 2017

Aku Memilih

Tulisan ini ditulis saat ada waktu yang sedikit luang di sela-sela kesibukan dan kegalauan menulis proposal tesis. Andaikan saja, menulis tesis sama seperti menulis di blog, tanpa perlu referensi yang seakurat jurnal Science Education, mungkin saja satu bulan semuanya udah selesai. Tapi ya tetap saja tidak mungkin. Haha. Ada sedikit yang ingin dibahas. Sejujurnya hal ini sedikit mengganggu pikiran.

Baiklah, seperti yang kita ketahui bersama bahwasanya teknologi tidak dapat lagi dipisahkan dalam kehidupan keseharian. Contoh sederhananya saja, saya nge-blog pakai notebook dan pakai tethering smartphone. Kebanyakan orang sudah kecanduan dengan teknologi terutama sejak adanya smartphone. Bagi sebagian orang akan berkata bahwa smartphone banyak diperlukan di zaman sekarang ini, apalagi era modernisasi. Saya cukup setuju bila fungsinya digunakan dengan sesuai not over. Misalnya untuk berkomunikasi dengan teman-teman sekantor, teman lama, atau keluarga hanya via whatsapp yang notabenenya semua bisa sangat irit biaya. Iya dong, cukup beli paket data 100ribu untuk 2 atau 3 bulan dibandingkan membeli pulsa dan sekali sms memakan biaya 250 rupiah. Coba saja dihitung sendiri, mungkin sebulan bisa habis 250ribu untuk pulsa. Nah, akan menjadi salah fungsinya jika semakin mudah komunikasi via whatsapp kah, bbm kah, line kah, kakao talk kah, dan aplikasi lainnya digunakan untuk mencari wanita-wanita yang dalam tanda kutip "ga bener" dengan mencari pin bb nya, terus pakai whatsapp untuk menggaet suami atau istri orang lain, melakukan perselingkuhan, dan lain sebagainya. Luar biasa karena akses komunikasi semakin bebas tanpa ada batas. 

Selanjutnya, penggunaan sosial media yang berlebihan dapat membuat efek yang luar biasa menurut saya. Penggunaan sosial media sih boleh saja, tapi harus dikontrol. Jangan sampai berefek ingin menjadi selebgram di instagram karena ingin terkenal. Kalau mampu ya tidak apa-apa, jangan sampai pengen jadi selebgram malah harus berhutang pada orang lain. Sekarang penggunaan instagram sangat luar biasa menurut pandangan saya. Banyak orang berlomba-lomba mengunggah foto-fotonya demi mendapat followers yang ribuan, agar terkenal, agar banyak yang like, dan lain sebagainya yang niatnya memang melenceng. Apalagi di instagram banyak wanita yang berpakaian seksi, rok mini, hot pants, berbusana yang tidak pantas dalam syariat Islam. Kalau wanita itu bukan muslim sih ya rapopo, tapi kalau muslim sungguh disayangkan. Memamerkan paha, dada, betis, sudah menjadi hal biasa di instagram. Semua free akses!!! Ini yang sangat bahaya!! Kalau diibaratkan instagram adalah sosial media yang pakai tanda lampu polisi 'wiu wiu wiu'. 

Bayangkan jika ada remaja di bawah umur mempunyai akun instagram, dia akan bebas akses melihat foto-foto yang seharusnya tidak dilihat. Apalagi mereka rasa ingin tahu nya masih sangat tinggi, bisa saja sehabis melihat instagram langsung praktek hal yang tidak diinginkan. Sangat disayangkan, anak-anak dengan usia dini sudah terkotori pikirannya. Kasus lain lagi, seorang suami yang melihat foto-foto wanita seksi di instagram baik disengaja atau tidak, kemudian ingin melakukan hal yang tidak diinginkan dengan wanita tersebut, atau melampiaskan dengan wanita selain istrinya maka apa yang akan terjadi ? rumah tangga bisa terguncang, perselingkuhan, perceraian sangat memungkinkan terjadi. Perceraian adalah hal yang sangat dibenci oleh Allah. 

Begitu banyak hal negatif yang dapat terjadi hanya dari akibat menggunakan smartphone dan mengakses medsos. Akibat sering melihat orang lain mempunyai barang mewah dan sering jalan-jalan tidak kecil kemungkinan kita akan menjadi kufur nikmat, suuzon, dan ghibah. Mengapa ? Saat melihat foto orang lain bisa saja terbersit, "ah, kok aku ga bisa hidup enak seperti dia ya?", Astaghfirullah, sungguh nikmat Allah begitu besar bagi kita, tak terhitung jumlahnya. Kita sibuk melihat kehidupan orang lain, sehingga kita lupa nikmat Allah sebenarnya begitu banyak pada kita.  Bisa melihat, berjalan dengan sempurna tanpa cacat, masih sehat pun adalah nikmat yang sangat luar biasa. Kemudian, melihat foto orang lain bisa saja terbersit, "uangnya dari mana ya? kok dia bisa beli barang mewah, bisa jalan-jalan ke luar negeri", maka suuzon pun akan menghantui kita. Apalagi jika ujungnya berghibah, Astaghfirullah. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal tersebut. Tapi kalau lah smartphone ini cerdas digunakan maka akan mendatangkan rezeki seperti jualan online.

Melihat fenomena tersebut, saya memilih untuk mengurangi frekuensi menggunakan sosial media. Ingin fokus untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri bukan malah menjadi wanita pamer bodi, kehidupan sementara ini jangan sampai kita lupa mempersiapkan bekal akhirat. Jadi ingat dalam ceramahnya AA Gym selalu mengingatkan agar hati-hati dalam menggunakan smartphone.

Semoga bermanfaat.