RSS

Jumat, 27 Oktober 2017

Apa yang terjadi jika tak ada tekanan atmosfer?

Tekanan atmosfer adalah suatu istilah yang tidak asing lagi bagi siswa SMP ataupun SMA saat mereka belajar sains. Saya kurang tau apakah guru mengajarkan manfaat tekanan atmosfer bagi lingkungan sekitar atau tidak. Agar tujuan pembelajaran tercapai sudah barang tentu manfaat tekanan atmosfer tersebut haruslah dijelaskan. Penjelasannya juga ada baiknya dikemas dengan menarik. Untuk apa sih? Ya, agar siswa tertarik untuk belajar sains.

Adapun salah satu manfaat tekanan atmosfer adalah untuk menjaga penguapan air di muka bumi agar tidak berlebihan. Apabila tidak ada tekanan atmosfer maka bumi akan kekeringan. Hmm, kok bisa sih? Sederhananya, air yang ada di permukaan bumi akan dipanaskan oleh sinar matahari. Sinar matahari yang dipancarkan ke bumi dikirimkan dalam bentuk gelombang cahaya yang kemudian akan berubah menjadi energi panas. Energi panas akan memutuskan ikatan molekul air. Seperti yang sudah diketahui bahwa molekul air merupakan jenis ikatan lemah yaitu ikatan Van der Waals. Sehingga pada saat energi panas dari matahari memanaskan air maka energi panas akan memutus ikatan antar molekul air dengan begitu mudahnya. Molekul air akan bergerak ke atas atau menguap. Seperti yang udah kita tau pula, tekanan atmosfer itu akan menekan semua yang ada di bawahnya termasuk molekul air yang bergerak ke atas tadi. Akibat adanya tekanan atmosfer ini maka molekul air tadi tidak jadi menguap, ia akan ditekan kembali ke bawah. 

Bayangkan jika tidak ada tekanan atmosfer yang bekerja di alam ini. Maka molekul air akan sangat cepat menguap dan tidak ada molekul air yang berfasa cair. Selain itu, jika bumi tanpa tekanan atmosfer maka air juga dapat mendidih hanya pada suhu ruangan saja.

Wah, luar biasa ternyata yaa..

Minggu, 10 September 2017

Aku Memilih

Tulisan ini ditulis saat ada waktu yang sedikit luang di sela-sela kesibukan dan kegalauan menulis proposal tesis. Andaikan saja, menulis tesis sama seperti menulis di blog, tanpa perlu referensi yang seakurat jurnal Science Education, mungkin saja satu bulan semuanya udah selesai. Tapi ya tetap saja tidak mungkin. Haha. Ada sedikit yang ingin dibahas. Sejujurnya hal ini sedikit mengganggu pikiran.

Baiklah, seperti yang kita ketahui bersama bahwasanya teknologi tidak dapat lagi dipisahkan dalam kehidupan keseharian. Contoh sederhananya saja, saya nge-blog pakai notebook dan pakai tethering smartphone. Kebanyakan orang sudah kecanduan dengan teknologi terutama sejak adanya smartphone. Bagi sebagian orang akan berkata bahwa smartphone banyak diperlukan di zaman sekarang ini, apalagi era modernisasi. Saya cukup setuju bila fungsinya digunakan dengan sesuai not over. Misalnya untuk berkomunikasi dengan teman-teman sekantor, teman lama, atau keluarga hanya via whatsapp yang notabenenya semua bisa sangat irit biaya. Iya dong, cukup beli paket data 100ribu untuk 2 atau 3 bulan dibandingkan membeli pulsa dan sekali sms memakan biaya 250 rupiah. Coba saja dihitung sendiri, mungkin sebulan bisa habis 250ribu untuk pulsa. Nah, akan menjadi salah fungsinya jika semakin mudah komunikasi via whatsapp kah, bbm kah, line kah, kakao talk kah, dan aplikasi lainnya digunakan untuk mencari wanita-wanita yang dalam tanda kutip "ga bener" dengan mencari pin bb nya, terus pakai whatsapp untuk menggaet suami atau istri orang lain, melakukan perselingkuhan, dan lain sebagainya. Luar biasa karena akses komunikasi semakin bebas tanpa ada batas. 

Selanjutnya, penggunaan sosial media yang berlebihan dapat membuat efek yang luar biasa menurut saya. Penggunaan sosial media sih boleh saja, tapi harus dikontrol. Jangan sampai berefek ingin menjadi selebgram di instagram karena ingin terkenal. Kalau mampu ya tidak apa-apa, jangan sampai pengen jadi selebgram malah harus berhutang pada orang lain. Sekarang penggunaan instagram sangat luar biasa menurut pandangan saya. Banyak orang berlomba-lomba mengunggah foto-fotonya demi mendapat followers yang ribuan, agar terkenal, agar banyak yang like, dan lain sebagainya yang niatnya memang melenceng. Apalagi di instagram banyak wanita yang berpakaian seksi, rok mini, hot pants, berbusana yang tidak pantas dalam syariat Islam. Kalau wanita itu bukan muslim sih ya rapopo, tapi kalau muslim sungguh disayangkan. Memamerkan paha, dada, betis, sudah menjadi hal biasa di instagram. Semua free akses!!! Ini yang sangat bahaya!! Kalau diibaratkan instagram adalah sosial media yang pakai tanda lampu polisi 'wiu wiu wiu'. 

Bayangkan jika ada remaja di bawah umur mempunyai akun instagram, dia akan bebas akses melihat foto-foto yang seharusnya tidak dilihat. Apalagi mereka rasa ingin tahu nya masih sangat tinggi, bisa saja sehabis melihat instagram langsung praktek hal yang tidak diinginkan. Sangat disayangkan, anak-anak dengan usia dini sudah terkotori pikirannya. Kasus lain lagi, seorang suami yang melihat foto-foto wanita seksi di instagram baik disengaja atau tidak, kemudian ingin melakukan hal yang tidak diinginkan dengan wanita tersebut, atau melampiaskan dengan wanita selain istrinya maka apa yang akan terjadi ? rumah tangga bisa terguncang, perselingkuhan, perceraian sangat memungkinkan terjadi. Perceraian adalah hal yang sangat dibenci oleh Allah. 

Begitu banyak hal negatif yang dapat terjadi hanya dari akibat menggunakan smartphone dan mengakses medsos. Akibat sering melihat orang lain mempunyai barang mewah dan sering jalan-jalan tidak kecil kemungkinan kita akan menjadi kufur nikmat, suuzon, dan ghibah. Mengapa ? Saat melihat foto orang lain bisa saja terbersit, "ah, kok aku ga bisa hidup enak seperti dia ya?", Astaghfirullah, sungguh nikmat Allah begitu besar bagi kita, tak terhitung jumlahnya. Kita sibuk melihat kehidupan orang lain, sehingga kita lupa nikmat Allah sebenarnya begitu banyak pada kita.  Bisa melihat, berjalan dengan sempurna tanpa cacat, masih sehat pun adalah nikmat yang sangat luar biasa. Kemudian, melihat foto orang lain bisa saja terbersit, "uangnya dari mana ya? kok dia bisa beli barang mewah, bisa jalan-jalan ke luar negeri", maka suuzon pun akan menghantui kita. Apalagi jika ujungnya berghibah, Astaghfirullah. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal tersebut. Tapi kalau lah smartphone ini cerdas digunakan maka akan mendatangkan rezeki seperti jualan online.

Melihat fenomena tersebut, saya memilih untuk mengurangi frekuensi menggunakan sosial media. Ingin fokus untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri bukan malah menjadi wanita pamer bodi, kehidupan sementara ini jangan sampai kita lupa mempersiapkan bekal akhirat. Jadi ingat dalam ceramahnya AA Gym selalu mengingatkan agar hati-hati dalam menggunakan smartphone.

Semoga bermanfaat.

Selasa, 05 September 2017

C.E.R.E.W.E.T

Kata "cerewet" sering banget kita dengerin dalam kehidupan kita. Kata lain dari cerewet adalah bawel. Kebanyakan orang merasa risih dan kesal saat ada yang men"cereweti"nya. Kalau aku pribadi sih, kadang merasa senang dan kadang kesal. Tapi aku tidak pernah memperlihatkan kekesalanku. Aku biasanya hanya diam. Kali ini aku pengen menyadarkan eh bukan ding, lebih pengen berbagi perasaan ketika dicerewetin dan dikatain cerewet.

Pengalaman yang paling sering aku alami adalah dikatain kalau aku itu cerewet, bawel, dan kayak emak-emak. Aku suka rada kesel kalau dikatain cerewet. Gimana engga, menurut aku, cerewet itu tanda perhatian. Kalau aku ga cerewet tandanya aku udah ga peduli dan ga perhatian lagi ke orang. So simple! Tapi kebanyakan orang yang aku lihat lebih suka seseorang yang cuek, baik itu dalam hubungan pertemanan atau dalam hubungan asmara. Aku liat sendiri aja, di salah satu anggota geng aku jaman kuliahan S1, ada yang cuek banget, ya sekedarnya aja. Kalau ngumpul ya dia ngumpul. Kalau ngobrol ya dia ngobrol cuma dia ga mau tahu sama masalah temennya yang lain. Nah, sedangkan aku yang lebih aktif dalam saling memberikan masukan lebih sering mengalami masalah. sedangkan temenku yang cuek aja, malah santai-santai aja. Kalau temen yang lain ada masalah yaudah cuma nenangin doang. selebihnya ya elu atasi aja sendiri masalah lu. Kasarnya sih begitu.

ternyata di hubungan asmara juga gitu, aku pernah dikatain bawel. Jadi inget sama pengalaman temenku yang udah merit, kalau lelaki itu tidak suka dengan wanita yang cerewet. Lah, aku jadi mikir, orang yang cerewet itu biasanya perhatian banget. Tapi seringkali dianggap itu malah hal yang bikin risih dan nyebelin. Jadi para lelaki sukanya wanita yang cuek? wanita yang ngehubungin dia kalau lagi ada perlunya aja? Duh, pengen bisa jadi wanita yang begitu, cuek dan memanfaatkan lelaki. Enak deh kayaknya! hidup juga ga ribet, ga mikirin dia. Tapi apaaaa?? I am not that kind of girl!

Sepertinya aku terlahir menjadi wanita yang ceriwis wis, tapi ndak yo wis sama orang lain. Aku memang tipe orang yang pengen ngasi perhatian dan bantuan semampuku. Ga bisa aku berpura-pura cuek dan memanfaatkan orang lain begitu saja. Aku heran dengan orang-orang yang lebih memilih untuk lebih nyaman dengan orang yang tidak cerewet.

Aku lebih suka jika ada yang cerewet ke aku, ngasi perhatian ke aku. Tapi sayangnya ga ada, wkwkwk.. kebanyakan aku yang cerewet tapi eh malah dikeselin sama orang-orang dan dijauhin orang. Kalaupun cerewetannya kadang negbuat risih, lebih baik diem aja. Aaku sih yakin aja, pasti dia cerewet karena dia perhatian dan sayang ke aku. Kalau engga cerewet ya engga perhatian dan engga sayang. Yuk, kita menghargai orang-orang yang cerewet ke kita karena sebenarnya mereka sayang dan perhatian ke kita. Jangan malah kita kesel dan ngerasa risih. Kamu pasti bakalan ngerasa kehilangan saat dia ga cerewet ke kamu lagi. kalau udah kehilangan, baru deh datang si penyesalan,

Semoga bermanfaat..

Selasa, 29 Agustus 2017

Jangan Coba Menyulut Api

Bandung, 30 Agustus 2017

Akh, tidak terasa sudah di penguhujung bulan Agustus. Ternyata sudah akhir bulan ya? Kebanyakan orang akhir bulan merasa sedih. Tapi seperti kali ini tidak. Kenapa? Iya dong, awal September nanti bagi umat muslim akan merayakan Hari Raya Idul Adha. Wah, senangnya yaa.. Momen kembali berkumpul dengan keluarga. Tahun ini masih sama dengan tahun lalu. Idul Adha di tanah orang. Niatnya ingin pulang tapi kondisi badan sedang tidak memungkinkan. Jadinya keinginan untuk pulang diurungkan dulu. Tapi ya tidak masalah sih, toh di sini juga ramai yang tidak pulkam. Lagipula mungkin tahun depan lagi sudah tidak di sini. Just enjoy aja 😀

Well, pengen nulis sesuatu deh hari ini. Tulisan ini terinspirasi dari beberapa permasalahan yang beberapa hari ini terjadi. Aku pengen ngasi analogi sederhana. *ehem.
Para pembaca pasti tau ya apa itu 'api'? Iya, 'A.P.I'. Hanya terdiri dari tiga huruf saja kalau dilihat dari segi tulisan tapi jangan melihat dari sisi sains, entar panjang lebar deh penjelasannya hehe.

Nah, seperti yang kita tau, api itu ada yang nyalanya kecil dan ada yang besar. Saat api menyala kecil, tentu ia akan sangat bermanfaat. Contohnya sederhana saja, api yang kecil dapat membantu ibu kita memasak di dapur, api yang kecil dapat membantu ayah yang ingin menyalakan rokok, api yang kecil juga dapat digunakan sebagai penghangat bagi teman-teman kita yang tinggal di daerah musim dingin, api yang kecil juga berguna sebagai penerang di malam hari bagi teman-teman yang hobi camping, dan masih banyak lainnya manfaat nyala api yang kecil ini. Namun, hati-hati kalau nyala apinya sudah besar. Kenapa? Lihat saja, api yang menyala besar dapat menyebabkan kebakaran dan merugikan masyarakat hanya dalam waktu sekejap saja. Eits, tapi tungggu dulu. Api yang nyalanya besar tentu tidak serta merta hadir begitu saja. Pasti ada penyebabnya kan? Misalnya, rumah yang terbakar biasanya diakibatkan oleh adanya arus pendek atau seringkali kita melihat Ayah membakar sampah dengan nyala api yang kecil kemudian ditambahi dengan minyak lampu atau bensin. Sehingga nyala api langsung membesar.

Cerita di atas dapat kita analogikan ke dalam kehidupan pergaulan sehari-hari. Gimana sih maksudnya? Gini deh, anggaplah kita berperan sebagai 'api'. Pasti kalian pernah diajak dalam hal-hal kebaikan oleh teman-teman sekitar kalian kan? Bagaimana respon kalian? Tentu kalian akan dengan baik menanggapi ajakan yang baik. Selanjutnya, kalian akan melakukan hal baik tersebut. Teman yang mengajak kebaikan inilah yang kita anggap mereka sebagai penyala api. Meskipun nyala api kecil namun ia bisa bermanfaat banyak. kemudian bagaimana sih yang bisa dianggap api menyala besar? Sederhana saja, kita sudah tau si A tidak suka makan ikan. Tapi kita malah menawarinya ikan, mungkin di awal ia maasih dengan baik menanggapinya. Namun kita terus-menerus menawari si A untuk memakan ikan tersebut. Sampai akhirnya si A menjadi jengkel dan marah. Bahkan lebih parahnya lagi mungkin ia membanting piring yang berisikan ikan tersebut. Menurut para pembaca, kita harus marah juga dengan sikap si A atau tidak?

Menurut pandangan saya, si A tidak bersalah. Loh? Kok bisa? Bukannya dia sudah membanting piring yang berisikan ikan sambil marah-marah? Yuk, kita main detektif-detektifan. Hehe. Kita selidiki apa penyebab awal si A bisa bertingkah seperti itu. Di awal si A sudah memberi tahu kita bahwa ia tidak suka makan ikan. Kali pertama, si A sudah memaafkan kita dan tidak ambil pusing. Harapan si A tentu esok ketika mungkin makan bersama lagi, kita tidak menawarkan ikan. Ternyata, kita malah masih saja menawarkan ikan. Begitu sampai beberapa kali. A masih saja sabar merespon kita. Sehingga tiba lah suatu hari si A tidak tahan lagi. Ia pun membanting piring yang berisikan ikan sambil marah-marah. 

Kembali lagi ke analogi tadi, si A tidak akan tersulut amarah kalau kita tidak menawari A untuk makan ikan. Tapi kita masih saja terus-menerus menawarinya. Kita layaknya seperti bensin yang dituangkan ke api, si A. Wajar saja, si A menjadi marah besar bukan? Mungkin sebagian kita hanya melihat sisi sikap A begitu buruk karena ia membanting piring sambil marah-marah namun kita lupa melakukan flashback dan mencari tahu alasan mengapa si A bersikap begitu. 

Sangat sederhana. Kebanyakan kita melihat apa yang ada di depan kita tanpa melihat apa alasan di baliknya. Kebanyakan kita sudah tau apa yang membuat seseorang menjadi marah, namun masih saja memancing keadaan sehingga suasana menjadi panas. Mari kita sama-sama belajar bagaimana menghargai orang lain, memahami apa yang disukai dan tidak disukai oleh lawan bicara kita, tidak mengungkit hal-hal yang membuat suasana menjadi panas dan keruh, menyadari dan mencari tahu mengapa seseorang bersikap tidak baik. Bagaimana posisinya jika kita tanpa sadar yang menjadi penyulut api masalah? baiklah, berikut ini beberapa tips yang didapat dari hasil googling.

1. Say sorry atau meminta maaf. Hal ini adalah langkah pertama yang harus dilakukan. Tapi maaf saja tidak cukup loh. Kalau kata Jerry Yan yang berperan sebagai Thao Ming Tse di Meteor Garden, "Kalau minta maaf berguna, untuk apa ada polisi?" Benar juga yaaa, kalau emang minta maaf berguna, yang udah mencuri, menculik, korupsi, ya mereka minta maaf aja, udah selesai toh. ga perlu disidang atau sampe dipenjara. Berarti, itu tandanya maaf saja belum cukup loh.
2. Next, admit your mistakes atau mengakui kesalahan yang sudah diperbuat. Ini penting loh, jangan sampe udah minta maaf tapi malah gatau ngucapin maaf buat apa. Bisa gawat, besok mungkin malah mengulang kesalahan yang sama dan itu-itu terus. Cape' deh! Saat mengakui kesalahan jangan sampai malah merasa ga bersalah. What the hell!😈 Nyebelin banget ga sih orang yang begituan, udah tau salah eh malah berkilah. Lebih parah lagi, malah menyalahkan kita atau orang lain yang berbuat salah. Hmm.. *mikirberat
3. Tanyakan apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kesalahan yang sudah diperbuat. Ini juga ga kalah penting loh. Balik lagi ke poin 1, maaf aja ga cukup. Coba tanyakan apa yang harus kita lakukan agar kita dimaafkan. Mungkin dia pengen ditraktir bakso Boedjangan. Wkwkwk. Suasana pasti bisa jadi cair deh.. Pada tahap ini, kebanyakan orang yang telah kita sakiti akan mengatakan "Iya, ke depannya, kamu jangan mengulangi kesalahan yang sama ya", atau "Iya, tobat ya jangan ngulang hal yang sama", atau "iya, aku maafin. jangan sampe terulang untuk yang ke dua atau ke tiga kalinya ya, plus traktir aku nonton dan makan ya. ehhehe". Kalau sudah begini pasti jadi akur.
4. Jangan malu mengakui kesalahan. Poin ini diinget ya, jangan malu mengakui kesalahan dan sebagai tambahan membujuk rayu orang yang sudah kita sakiti hatinya. Karena kuncinya, orang yang sakit hati kalau udah dirayu dengan manis pake gulali pasti langsung luluh. Iya, dia cuma mau yang berbuat salah itu ngaku. So simple. Tapi kebanyakan kita merajakan 'ego'. Beuh! kebanyakan sih cowok kali ya, mungkin karena udah nyadar kalau mereka punya hak dan derajat yang lebih tinggi dari cewek. Tapi, kalau namanya udah salah. Ya, emang ada yang salah gitu kalau cowok mengakui kesalahannya dan membujuk rayu pada orang yang disakitinya (note: dalam arti agar suasana menjadi baik, bukan merayu gombal ya. Lol) ?
5. Berjanji tidak mengulangi kesalahan. Setelah meminta maaf jangan lupa pula untuk berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Percuma mengucapkan "maaf" tapi malah eh besoknya melakukan lagi kesalahan yang sama pula. Duh, duh.. jadi ucapan maaf kemarin maknanya apa? Kalau begitu enak banget dong ya, habis ucapin maaf, eh berbuat lagi kesalahan yang sama. Begitu aja terus sampai kiamar. Weleh weleh.. Jadi baiknya itu adalah setelah meminta maaf berjanjilah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. 

Noted: Jangan menyulut api, bahaya loh! Semoga bermanfaat.

Sabtu, 22 Juli 2017

Tiket Menuju Jannah-Nya

Menikah bukanlah sebuah perlombaan, tapi menikah adalah perkara menunaikan setengah agama.
Menikah bukanlah siapa yang menang dan siapa yang kalah, tapi menikah adalah perkara siapkah berbagi suka dan duka dengan pasangan hidupmu nanti.
Menikah bukanlah tentang ingin mengumbar foto mesra di sosmed karena sudah halal, tapi menikah adalah awal membangun sebuah rumah tangga yang harmonis tanpa perlu diumbar.
Menikah bukanlah permainan yang hanya 1 atau 2 jam saja dimainkan, tapi menikah adalah bagaimana engkau menghabiskan seluruh sisa hidupmu hanya dengan bersama satu orang saja, berbagi dengan anak-anakmu, dan seumur hidup bahkan hingga surga-Nya.

Hasil gambar untuk marriage is not a game

Banyak juga orang yang khawatir saat melihat orang lain menikah. Saat undangan datang ke tangan kita, tidak jarang hati kita berdesir merasa ingin pula menikah. Eits, tapi tunggu dulu! Apa iya kita benar-benar ingin menikah? Coba kembali kita tanya, kenapa kita ingin menikah? Jika orang bilang, ngapain banyak pertimbangan untuk menikah, toh rezeki sudah Allah yang mengatur. Benar sekali! Saya setuju kok rezeki itu Allah yang atur. Tapi tunggu dulu. Apa iya rezeki datang begitu saja tanpa ada ikhtiar dan doa? Apa iya rezeki akan datang jika nanti ketika menikah justru pasangan kita malah enggan berikhtiar untuk mencari rezeki bersama? Tentu tidak. Tidak mungkin yang namanya rezeki nomplok tanpa adanya ikhtiar dan doa yang kuat.

Hasil gambar untuk marriage

Aku di usia yang menuju 25, yang katanya usia ideal untuk menikah. Aku kurang tau kenapa disebutnya ideal. Sejujurnya, aku sendiri memang ingin menikah. Banyak teman-teman yang seangkatanku sudah menikah. Tapi aku berpikir kembali dan ingin meluruskan niat lagi. Apa iya aku sudah siap menikah? Apa iya ilmu ku sudah cukup nanti ketika menikah? Apakah ilmu ku sudah cukup untuk mendidik anak-anakku nanti? Bukankah madrasah pertama seorang anak adalah ibu? Aku sangat ingin anak-anakku nanti menjadi anak yang soleh, cerdas dan berguna bagi agama serta orang di sekitarnya. Begitu ingin menjadi ibu yang nanti menjadi teladan bagi anak-anaknya. Sudahkah aku menjadi orang yang tidak egois, ingin menang sendri, dan mendengarkan orang lain? Bukankah ketika menikah aku akan hidup dengan orang lain? Biasanya aku sesuka hati keluar rumah, membeli ini dan itu semauku, yahh.. sesukanya.. Tapi bukankah menikah aku harus siap untuk berbagi dengan suamiku? Keluar rumah juga harus dengan seiizinnya, keuangan harus dikontrol karena pasti banyak kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan anak, tidak boleh egois karena kehidupan menikah adalah berbagi dan membangun sebuah rumah tangga (read: organisasi kecil menuju Jannah). Tentu jika ingin menjadi rumah tangga yang maju, visi dan misi anggotanya haruslah disamakan dulu, program kerjanya apa saja, goals yang ingin dicapai apa, dan tentu ada bagian keuangan. Banyak lagi hal yang harus dihandle bersama, bukan malah sendiri-sendiri.

Hasil gambar untuk marriage


Bagiku, menikah bukan berarti aku berhenti menjadi seseorang yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Aku tetap ingin menjadi sosok yang bermanfaat bagi keluarga kecilku nanti dan orang di sekitarku. Aku ingin menikah bukanlah menjadi penghalang untukku dalam beribadah kepada Allah, tidak sedikit suami yang melarang istri atau kesal melihat istri yang ingin beribadah. Aku ingin menikah bukanlah menjadi penghambat karyaku di masyarakat. Tidak sedikit suami yang melarang istri untuk berkarya dan bermanfaat bagi orang sekitarnya. Tapi tunggu dulu, bisa jadi wanita kebablasan di luar. Nah ini dia, yang ingin pula aku tidak seimbangkan, aku ingin 70% bisa mengabdi dan memberikan perhatian penuh bagi keluarga kecilku dan 30% berkarya dan bermanfaat bagi orang di sekitarku. Pastilah tidak mudah. TENTU! kenapa? Tiket menuju syurga sangat banyak loh dalam berumah tangga atau setelah menikah. Oleh karena itu, dalam menjalani rumah tangga pasti banyak cobaan-cobaan hidup yang akan dihadirkan Allah, membutuhkan kesabaran yang luar biasa, dan menguji ketahanan serta kesetiaan bagi kedua pasangan. Tiket ke Jannah-Nya Allah itu mahal, pasti butuh energi besar untuk mendapatkannya.


Ah,, memikirkan hal seperti ini, membuatku bahagia. Tapi aku harus segera bergegas memperbaiki akhlak dan mencukupkan bekal dan ilmu untuk menuju pintu pengambilan tiket ke Jannah Allah. Semoga aku dan para pembaca segera menuju pintu pengambilan tiket dan mendapatkan tiket menuju Jannah Allah yaaa...

Hasil gambar untuk marriage is not a game

Semoga bermanfaat.

Senin, 17 Juli 2017

Belajar Menghargai Proses

Aceh, Juli 2017

Lama sudah tidak menulis di blog dikarenakan kegiatan akhir studi yang semakin menyita waktu. Ditambah lagi pengerjaan proposal tesis yang harus segera dirampungkan. Kali ini ada sedikit yang ingin dibagikan, kurang tau lebih tepatnya dikatakan ilmu parenting atau hanya berbagi pengalaman. Mungkin nanti para pembaca bisa menyimpulkan sendiri, bagian terpenting adalah semoga menjadi bacaan yang bermanfaat, mampu menginspirasi dan bisa mengubah pola pikir menjadi lebih baik.

Meskipun saya belum melakukan survei secara resmi, beberapa orang dari teman saya, beberapa orang tua, guru dan masyarakat sekitar, saya ingin mengatakan bahwa “belajarlah menghargai proses” adalah hal yang ternyata begitu penting.

Kasus 1.
Mungkin teman-teman pernah melihat atau mendengar orang tua yang mengatakan “berapa nilai ulanganmu tadi di sekolah, nak?”. Secara ilmu kebahasaan saya tidak mampu mengartikannya secara mendalam. Namun saya melihat bahwa konteks kalimat tersebut ingin mendapat jawaban ‘nilai’ yang didapat, tanpa maksud menanyakan bagaimana proses si anak menjawab soal, apakah ada soal yang tidak bisa diselesaikan, apakah waktu pengerjaan soal ulangan cukup, apakah si anak konsentrasi saat menjawab soal. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini luput dari perhatian orang tua. Sehingga efeknya, bisa jadi suatu saat nanti, si anak akan mendapat nilai yang bagus tapi proses mendapatkan jawabannya melalui ‘menghalalkan segala cara’, contoh sederhana saja dengan menyontek atau melakukan hal curang dalam bentuk lainnya. Kenapa demikian? Si anak akan mempunyai pola pikir, ‘toh, orang tua hanya akan menanyakan berapa nilai yang saya dapat, bukan bagaimana cara saya mendapatkan nilai’. Tentu akan sangat berbahaya jika anak mencoba mendapatkan cara dengan tindakan curang seperti menyontek, mengancam temannya agar memberikan jawaban, atau hal lain yang menurut si anak halal untuk dilakukan.

Kasus 2.
Mungkin dalam pergaulan sehari-hari dengan teman sebaya sering kita menanyakan secara sadar atau tidak dalam hal “sudah kerja dimana sekarang?”, atau “sudah menikah?”. Memang sangat sederhana. Tapi sering luput dari perhatian kita untuk menanyakan terlebih dahulu bagaimana kabarnya, apa saja kegiatan saat ini, bagaimana perkembangan kegiatannya, bagaimana dengan pekerjaan, apa yang bisa dibantu untuk mendapatkan pekerjaan, apa yang harus saya bantu agar segera bertemu dengan jodohnya. Kita sering luput bahwa sebenarnya teman kita mungkin butuh bantuan. Kita kurang menghargai proses bagaimana teman kita dalam hal mencari pekerjaan dan jodoh, malah langsung ingin tahu apa jenis pekerjaannya dan siapa jodohnya. Kita jarang sekali menanyakan apa yang perlu kita bantu untuk mereka.

Hal lain yang juga seringkali terjadi, “eh dia kok penampilannya kuno begitu ya? Ga modis, ga fashionable, atau wajahnya dia berjerawat banget ya, berminyak lagi” atau “jilbabnya lebar tapi kok pelit ya kurang sedekah, amalannya masih begitu-begitu saja, malah pacaran lagi” atau “dengar-dengar dia mau menikah ya? Menyiangi ikan saja belum pandai, palingan juga bisanya masak air dan indomie saja”. Jarang sekali kita mendengar, “eh, aku tau loh pasar atau onlineshop yang menjual baju-baju yang bagus tapi dengan harga murah, mungkin kamu bisa coba lihat-lihat, biar penampilanmu jadi makin kece”, atau “by the way, kemarin aku dapat pesan whatsapp kalau di mesjid agung bakalan ada kajian rutin tentang problematika remaja, loh. Kita dateng yuk, pergi bareng yuk” atau “solat dhuha bareng yuk” atau “aku dengar sedang ada penggalangan dana nih buat yatim piatu/korban bencana alam. Kita bantu yuk, biar nambah amalan persiapan tiket ke surga” atau “Aku dapat kabar kalau kamu mau menikah ya? Aku punya kenalan yang buka kursus masak loh, mungkin kamu bisa daftar di sana. Nambah ilmu tentang memasak supaya suami makin lengket di rumah. Hihi”. Kalimat-kalimat di atas sering lupa kita gunakan dalam pergaulan. Kebanyakan kita hanya ingin mengetahui hasil tanpa membantu proses atau melihat proses di balik semua kejadian.

Kasus 3.
Hal ini sering terjadi jika seorang anak gadis akan menikah. Akan banyak pertanyaan-pertanyaan seperti, “memang sudah siap menikah? masih muda sekali kok sudah menikah. Memang sudah bisa apa? Sudah bisa masak belum? Masak sayur saja tidak bisa, mau dikata-katain sama mertua ya dengan kemampuan masak yang begitu? Sudah ada pekerjaan belum kalau-kalau nanti suami meninggal, anakmu mau dikasi makan apa? Calon suamimu kerjanya apa?” Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang sering dilontarkan oleh orang tua atau tetangga-tetangga yang sudah tua. Mungkin hal ini dikarenakan kekhawatiran orang tua yang tidak ingin anaknya hidup susah. Memang benar, akan tetapi bukan berarti langsung meminta hasil ‘jadi’. Kalau menunggu umur siap, tidak akan ada siap-siapnya. Kita selalu akan berpikir tidak siap. Justru harusnya kita memikirkan, bagaimana menyiapkannya. Tentu manusia tidak ada yang sempurna dan ahli dalam semua hal. Hendaknya orang tua membimbing anaknya agar menjadi istri yang baik dan taat pada suami jika menikah nanti bukan malah memborbardir dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin menciutkan mental si anak. Jika anak gadisnya tidak bisa memasak, hendaknya orang tua menawarkan ‘bagaimana jika sebulan sebelum menikah, kamu kursus memasak dulu dengan ibu, supaya suami tidak sering makan di luar, anak-anakmu nanti tidak jajan di luar dan bisa hemat pengeluaran keluarga. Pasti nanti suamimu makin senang punya istri yang pintar masak dan pintar mengelola keuangan rumah tangga’ atau ‘sudah punya buku parenting? Sepertinya kita perlu ke toko buku untuk membelinya. Kamu harus persiapan dari sekarang, loh. Nanti ibu atau ayah temani ya ke toko bukunya.’ Kalimat-kalimat ini jarang sekali kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga kasus di atas, saya rasa cukup sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering luput dalam hal melihat proses yang terjadi namun lebih sering menginginkan sesuatu yang sudah ‘instan’ dan ingin mendapatkan hasil yang langsung baik atau berhasil. Mana mungkin sesuatu yang berhasil dan baik didapat hanya dengan simsalabim abrakadabra. Akan tetapi, tentu melalui suatu proses.

Ada beberapa hal bisa saya sarankan agar kita menjadi seseorang yang mampu menghargai proses;
1. Positive thinking. Tanamkan bahwa apapun yang terjadi dengan pemikiran yang positif terlebih dahulu.
2. Hindari memberikan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan yang bertanya tanpa maksud atau basa-basi, negatif atau bersifat meremehkan karena hany akan buang-buang energi. Sebaiknya energi disimpan untuk hal berguna lainnya.
3. Pilih kembali pertanyaan atau pernyataan yang akan dilontarkan.
4. Ganti kata-kata negatif dengan kata-kata positif. Mungkin bisa dimulai dengan “bagaimana proses ini.. itu..”, “apakah ada yang bisa saya bantu untuk menyelesaikan masalahmu?” atau dengan beberapa kalimat yang sebelumnya sudah saya sebutkan pada setiap kasus.


Yuk, mulai dari sekarang belajar menghargai proses. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Jumat, 09 Juni 2017

Puasa di Rantau Orang

Halo,, tulisan ini sebenarnya ingin diterbitkan sejak awal Ramadhan, tapi berhubung sehari sebelum Ramadhan masih ada ujian akhir semester, maka tertundalah keinginan. 

Well, cuma mau sharing beberapa hal sih sebenarnya,
Jumat, 25 Mei 2017, tepatnya satu hari sebelum puasa pertama dimulai, saya dan teman-teman masih harus menghadapi ujian untuk 3 mata kuliah dan 3 sks pula. Mata kuliah apa sajakah itu? Statistika, kajian IPA - kimia dan kajian IPA biologi. Pergi kuliah jam 7 pagi dan pulang pukul 17.00 wib. Masya Allah, bahkan besok mau Ramadhan puunn.. Pulang dari kampus aku dan teman sekelasku mba Aulia beli lauk di de'Besto yang lokasinya dekat kampus. Banyak warung yang tutup sih.

Nah, kalau di Aceh nama hari sehari sebelum Ramadhan sering dikenal dengan hari Meugang. Kalau di Bandung namanya 'munggahan'. Kurang lebih ya sama, masak-masak dan makan-makan. Cuma sebagai anak kos, d sini cuma makan fastfood aja laah.. eits, tetep disyukuri juga loh, masih bisa membeli makanan, mungkin orang lain mau beli makan aja susah.

Di sini, suasana Ramadhannya kerasa banget deh, mungkin karena dekat dengan Darut Tauhid ya, pesantrennya Aa Gym. Tapi sayang banget, aku haid. Jadi ga bisa merasakan Ramadhan pertama. Tetap aja harus bersyukur yaahh.

Tunggu dulu, hidup aku dan teman-teman tidak sampai di sini ceritanya. Besok, Sabtu, hari pertama puasa, kita malah harus mengumpulkan ujian akhir, huwaaaa.. Alhasil, malamnya begadang dan semua teman-teman pada ga tidur. Tapi seru siiih, kapan lagi bisa menikmati momen yang beginian. Setelah sabtu, seninnya kami harus mengumpulkan uas mata kuliah filsafat. sungguh luar biasa perjuangan di rantau orang. jadi inget soundtrack yang dinyanyikan ama Judika, "Udaaaaaa... kanduang.. di rantau uraaaanggg, telah lama tak pulaaaaanggg'..

Yuk, nikmati dan syukuri waktu kita di bulan Ramadhan meski di rantau orang.
Happy Fasting, all ! :) Brakallahulanaaa