RSS
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Juli 2017

Tiket Menuju Jannah-Nya

Menikah bukanlah sebuah perlombaan, tapi menikah adalah perkara menunaikan setengah agama.
Menikah bukanlah siapa yang menang dan siapa yang kalah, tapi menikah adalah perkara siapkah berbagi suka dan duka dengan pasangan hidupmu nanti.
Menikah bukanlah tentang ingin mengumbar foto mesra di sosmed karena sudah halal, tapi menikah adalah awal membangun sebuah rumah tangga yang harmonis tanpa perlu diumbar.
Menikah bukanlah permainan yang hanya 1 atau 2 jam saja dimainkan, tapi menikah adalah bagaimana engkau menghabiskan seluruh sisa hidupmu hanya dengan bersama satu orang saja, berbagi dengan anak-anakmu, dan seumur hidup bahkan hingga surga-Nya.

Hasil gambar untuk marriage is not a game

Banyak juga orang yang khawatir saat melihat orang lain menikah. Saat undangan datang ke tangan kita, tidak jarang hati kita berdesir merasa ingin pula menikah. Eits, tapi tunggu dulu! Apa iya kita benar-benar ingin menikah? Coba kembali kita tanya, kenapa kita ingin menikah? Jika orang bilang, ngapain banyak pertimbangan untuk menikah, toh rezeki sudah Allah yang mengatur. Benar sekali! Saya setuju kok rezeki itu Allah yang atur. Tapi tunggu dulu. Apa iya rezeki datang begitu saja tanpa ada ikhtiar dan doa? Apa iya rezeki akan datang jika nanti ketika menikah justru pasangan kita malah enggan berikhtiar untuk mencari rezeki bersama? Tentu tidak. Tidak mungkin yang namanya rezeki nomplok tanpa adanya ikhtiar dan doa yang kuat.

Hasil gambar untuk marriage

Aku di usia yang menuju 25, yang katanya usia ideal untuk menikah. Aku kurang tau kenapa disebutnya ideal. Sejujurnya, aku sendiri memang ingin menikah. Banyak teman-teman yang seangkatanku sudah menikah. Tapi aku berpikir kembali dan ingin meluruskan niat lagi. Apa iya aku sudah siap menikah? Apa iya ilmu ku sudah cukup nanti ketika menikah? Apakah ilmu ku sudah cukup untuk mendidik anak-anakku nanti? Bukankah madrasah pertama seorang anak adalah ibu? Aku sangat ingin anak-anakku nanti menjadi anak yang soleh, cerdas dan berguna bagi agama serta orang di sekitarnya. Begitu ingin menjadi ibu yang nanti menjadi teladan bagi anak-anaknya. Sudahkah aku menjadi orang yang tidak egois, ingin menang sendri, dan mendengarkan orang lain? Bukankah ketika menikah aku akan hidup dengan orang lain? Biasanya aku sesuka hati keluar rumah, membeli ini dan itu semauku, yahh.. sesukanya.. Tapi bukankah menikah aku harus siap untuk berbagi dengan suamiku? Keluar rumah juga harus dengan seiizinnya, keuangan harus dikontrol karena pasti banyak kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan anak, tidak boleh egois karena kehidupan menikah adalah berbagi dan membangun sebuah rumah tangga (read: organisasi kecil menuju Jannah). Tentu jika ingin menjadi rumah tangga yang maju, visi dan misi anggotanya haruslah disamakan dulu, program kerjanya apa saja, goals yang ingin dicapai apa, dan tentu ada bagian keuangan. Banyak lagi hal yang harus dihandle bersama, bukan malah sendiri-sendiri.

Hasil gambar untuk marriage


Bagiku, menikah bukan berarti aku berhenti menjadi seseorang yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Aku tetap ingin menjadi sosok yang bermanfaat bagi keluarga kecilku nanti dan orang di sekitarku. Aku ingin menikah bukanlah menjadi penghalang untukku dalam beribadah kepada Allah, tidak sedikit suami yang melarang istri atau kesal melihat istri yang ingin beribadah. Aku ingin menikah bukanlah menjadi penghambat karyaku di masyarakat. Tidak sedikit suami yang melarang istri untuk berkarya dan bermanfaat bagi orang sekitarnya. Tapi tunggu dulu, bisa jadi wanita kebablasan di luar. Nah ini dia, yang ingin pula aku tidak seimbangkan, aku ingin 70% bisa mengabdi dan memberikan perhatian penuh bagi keluarga kecilku dan 30% berkarya dan bermanfaat bagi orang di sekitarku. Pastilah tidak mudah. TENTU! kenapa? Tiket menuju syurga sangat banyak loh dalam berumah tangga atau setelah menikah. Oleh karena itu, dalam menjalani rumah tangga pasti banyak cobaan-cobaan hidup yang akan dihadirkan Allah, membutuhkan kesabaran yang luar biasa, dan menguji ketahanan serta kesetiaan bagi kedua pasangan. Tiket ke Jannah-Nya Allah itu mahal, pasti butuh energi besar untuk mendapatkannya.


Ah,, memikirkan hal seperti ini, membuatku bahagia. Tapi aku harus segera bergegas memperbaiki akhlak dan mencukupkan bekal dan ilmu untuk menuju pintu pengambilan tiket ke Jannah Allah. Semoga aku dan para pembaca segera menuju pintu pengambilan tiket dan mendapatkan tiket menuju Jannah Allah yaaa...

Hasil gambar untuk marriage is not a game

Semoga bermanfaat.

Senin, 17 Juli 2017

Belajar Menghargai Proses

Aceh, Juli 2017

Lama sudah tidak menulis di blog dikarenakan kegiatan akhir studi yang semakin menyita waktu. Ditambah lagi pengerjaan proposal tesis yang harus segera dirampungkan. Kali ini ada sedikit yang ingin dibagikan, kurang tau lebih tepatnya dikatakan ilmu parenting atau hanya berbagi pengalaman. Mungkin nanti para pembaca bisa menyimpulkan sendiri, bagian terpenting adalah semoga menjadi bacaan yang bermanfaat, mampu menginspirasi dan bisa mengubah pola pikir menjadi lebih baik.

Meskipun saya belum melakukan survei secara resmi, beberapa orang dari teman saya, beberapa orang tua, guru dan masyarakat sekitar, saya ingin mengatakan bahwa “belajarlah menghargai proses” adalah hal yang ternyata begitu penting.

Kasus 1.
Mungkin teman-teman pernah melihat atau mendengar orang tua yang mengatakan “berapa nilai ulanganmu tadi di sekolah, nak?”. Secara ilmu kebahasaan saya tidak mampu mengartikannya secara mendalam. Namun saya melihat bahwa konteks kalimat tersebut ingin mendapat jawaban ‘nilai’ yang didapat, tanpa maksud menanyakan bagaimana proses si anak menjawab soal, apakah ada soal yang tidak bisa diselesaikan, apakah waktu pengerjaan soal ulangan cukup, apakah si anak konsentrasi saat menjawab soal. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini luput dari perhatian orang tua. Sehingga efeknya, bisa jadi suatu saat nanti, si anak akan mendapat nilai yang bagus tapi proses mendapatkan jawabannya melalui ‘menghalalkan segala cara’, contoh sederhana saja dengan menyontek atau melakukan hal curang dalam bentuk lainnya. Kenapa demikian? Si anak akan mempunyai pola pikir, ‘toh, orang tua hanya akan menanyakan berapa nilai yang saya dapat, bukan bagaimana cara saya mendapatkan nilai’. Tentu akan sangat berbahaya jika anak mencoba mendapatkan cara dengan tindakan curang seperti menyontek, mengancam temannya agar memberikan jawaban, atau hal lain yang menurut si anak halal untuk dilakukan.

Kasus 2.
Mungkin dalam pergaulan sehari-hari dengan teman sebaya sering kita menanyakan secara sadar atau tidak dalam hal “sudah kerja dimana sekarang?”, atau “sudah menikah?”. Memang sangat sederhana. Tapi sering luput dari perhatian kita untuk menanyakan terlebih dahulu bagaimana kabarnya, apa saja kegiatan saat ini, bagaimana perkembangan kegiatannya, bagaimana dengan pekerjaan, apa yang bisa dibantu untuk mendapatkan pekerjaan, apa yang harus saya bantu agar segera bertemu dengan jodohnya. Kita sering luput bahwa sebenarnya teman kita mungkin butuh bantuan. Kita kurang menghargai proses bagaimana teman kita dalam hal mencari pekerjaan dan jodoh, malah langsung ingin tahu apa jenis pekerjaannya dan siapa jodohnya. Kita jarang sekali menanyakan apa yang perlu kita bantu untuk mereka.

Hal lain yang juga seringkali terjadi, “eh dia kok penampilannya kuno begitu ya? Ga modis, ga fashionable, atau wajahnya dia berjerawat banget ya, berminyak lagi” atau “jilbabnya lebar tapi kok pelit ya kurang sedekah, amalannya masih begitu-begitu saja, malah pacaran lagi” atau “dengar-dengar dia mau menikah ya? Menyiangi ikan saja belum pandai, palingan juga bisanya masak air dan indomie saja”. Jarang sekali kita mendengar, “eh, aku tau loh pasar atau onlineshop yang menjual baju-baju yang bagus tapi dengan harga murah, mungkin kamu bisa coba lihat-lihat, biar penampilanmu jadi makin kece”, atau “by the way, kemarin aku dapat pesan whatsapp kalau di mesjid agung bakalan ada kajian rutin tentang problematika remaja, loh. Kita dateng yuk, pergi bareng yuk” atau “solat dhuha bareng yuk” atau “aku dengar sedang ada penggalangan dana nih buat yatim piatu/korban bencana alam. Kita bantu yuk, biar nambah amalan persiapan tiket ke surga” atau “Aku dapat kabar kalau kamu mau menikah ya? Aku punya kenalan yang buka kursus masak loh, mungkin kamu bisa daftar di sana. Nambah ilmu tentang memasak supaya suami makin lengket di rumah. Hihi”. Kalimat-kalimat di atas sering lupa kita gunakan dalam pergaulan. Kebanyakan kita hanya ingin mengetahui hasil tanpa membantu proses atau melihat proses di balik semua kejadian.

Kasus 3.
Hal ini sering terjadi jika seorang anak gadis akan menikah. Akan banyak pertanyaan-pertanyaan seperti, “memang sudah siap menikah? masih muda sekali kok sudah menikah. Memang sudah bisa apa? Sudah bisa masak belum? Masak sayur saja tidak bisa, mau dikata-katain sama mertua ya dengan kemampuan masak yang begitu? Sudah ada pekerjaan belum kalau-kalau nanti suami meninggal, anakmu mau dikasi makan apa? Calon suamimu kerjanya apa?” Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang sering dilontarkan oleh orang tua atau tetangga-tetangga yang sudah tua. Mungkin hal ini dikarenakan kekhawatiran orang tua yang tidak ingin anaknya hidup susah. Memang benar, akan tetapi bukan berarti langsung meminta hasil ‘jadi’. Kalau menunggu umur siap, tidak akan ada siap-siapnya. Kita selalu akan berpikir tidak siap. Justru harusnya kita memikirkan, bagaimana menyiapkannya. Tentu manusia tidak ada yang sempurna dan ahli dalam semua hal. Hendaknya orang tua membimbing anaknya agar menjadi istri yang baik dan taat pada suami jika menikah nanti bukan malah memborbardir dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin menciutkan mental si anak. Jika anak gadisnya tidak bisa memasak, hendaknya orang tua menawarkan ‘bagaimana jika sebulan sebelum menikah, kamu kursus memasak dulu dengan ibu, supaya suami tidak sering makan di luar, anak-anakmu nanti tidak jajan di luar dan bisa hemat pengeluaran keluarga. Pasti nanti suamimu makin senang punya istri yang pintar masak dan pintar mengelola keuangan rumah tangga’ atau ‘sudah punya buku parenting? Sepertinya kita perlu ke toko buku untuk membelinya. Kamu harus persiapan dari sekarang, loh. Nanti ibu atau ayah temani ya ke toko bukunya.’ Kalimat-kalimat ini jarang sekali kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga kasus di atas, saya rasa cukup sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering luput dalam hal melihat proses yang terjadi namun lebih sering menginginkan sesuatu yang sudah ‘instan’ dan ingin mendapatkan hasil yang langsung baik atau berhasil. Mana mungkin sesuatu yang berhasil dan baik didapat hanya dengan simsalabim abrakadabra. Akan tetapi, tentu melalui suatu proses.

Ada beberapa hal bisa saya sarankan agar kita menjadi seseorang yang mampu menghargai proses;
1. Positive thinking. Tanamkan bahwa apapun yang terjadi dengan pemikiran yang positif terlebih dahulu.
2. Hindari memberikan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan yang bertanya tanpa maksud atau basa-basi, negatif atau bersifat meremehkan karena hany akan buang-buang energi. Sebaiknya energi disimpan untuk hal berguna lainnya.
3. Pilih kembali pertanyaan atau pernyataan yang akan dilontarkan.
4. Ganti kata-kata negatif dengan kata-kata positif. Mungkin bisa dimulai dengan “bagaimana proses ini.. itu..”, “apakah ada yang bisa saya bantu untuk menyelesaikan masalahmu?” atau dengan beberapa kalimat yang sebelumnya sudah saya sebutkan pada setiap kasus.


Yuk, mulai dari sekarang belajar menghargai proses. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Rabu, 15 Februari 2017

Siapa Aja Boleh ?

Rabu, 15 Februari 2017

Aktivitas hari ini adalah menyelesaikan tugas analisis jurnal. Kebayang ga sih dari beribu-ribu jurnal harus memilih 10 jurnal saja. Tapi ga sesulit mencari jodoh sih *eh!
Tugas ini udah dari hari senin sih dikejar, *emang kucing? Tapi berhubung kondisi tubuh sedang tidak fit, ya begitulah hanya mampu menatap dan mengunduh hampir 200 journals, tanpa membaca terlebih dahulu. Yah, selain kondisi sedang tidak fit sekalian sih, mumpung gratis kan unduh jurnalnya. Hehe. *otak anak kos banget ga sih? Akhirnya hari ini rampung. Semoga besok diacc oleh bapak pengampu mata kuliah analisis hasil studi pembelajaran IPA. Kalau tidak, ya try again lagi deh.

Seperti yang udah dipost sebelumnya, bahwasanya beberapa postingan ke depan adalah tulisanku yang ada di catatan facebook yang udah jamaaaan banget. Tapi sebenarnya disesuaikan dengan kondisi sih. Kalau kira-kira topiknya hangat untuk di blow up lagi, ya aku repost di sini. Sedikit ada edit sana-sini agar layak dikonsumsi. Tulisan ini ditulis pada tanggal 26 Desember 2013. *masa-masa nulis proposal tesis eits skripsi ding maksudnya. LoL

♚♚♚

catatan ini terinspirasi waktu lagi perbaiki proposal yang mau dikasi sama bapak dosen wali tercinta :D haghag... *deg2an gtu...
jadi gini nih,, saya tiba2 terpikir, kok ada ya yang pelit ilmu? atau kadang saya terpikir, kok ada ya yang pelit informasi? Ya, alias tidak mau berbagi.
atau kadang saya terpikir, kok ada ya yang gk ngasi pinjem catatan kuliahnya? Ini orang pelit banget cenah. Emang sih ga boleh negative thinking. Yah, mungkin aja kan, itu catatan disalahgunakan seperti mengkopi dengan tulisan yang amat kecil sebagai kopekologi ketika ujian. Emang kalau ini salah. Tapi kalau si teman ga dateng kuliah karena memang ada urgensi penting sehingga dia ga masuk kuliah, gimana dong? Kan kasian juga. Tapi, yah ada juga yang memang pelit karena udah susah payah dicatet pas kuliah. Kebanyakan alasannya sih gini "mau pake, gak lengkap dan bleh bleh bleh.." *padahal tu temen cuma minjem 1 jam doang buat fotokopi.. hadeuu --',

Kasus selanjutnya yang pelit ilmu, kalau aku nanya, "Eh, ini gimana sih? kamu paham ga?" Malahan si kawan ngejawab gini, "Aku juga kurang paham". Yoweslah, mungkin memang dia ga paham. Eh, tetiba ada cowok yang nanya itu temen (note: cewek) langsung deh dia memaparkan sejelas mungkin. (Read: even now, juga pernah terjadi sama aku). Sing sabar, dini!

Terus ada kasus selanjutnya *panggil Sherlock Holmes
Yang paling mengherankan adalah ada nih ya temen yang kadang sewot kalo kita dapet nilai yang lebih tinggi. contoh kasus nih..
aku dapet 90 trus si temen dapet nilai 87,
ehh tiba-tiba dia malah bilang "kok bisa kamu dapat nilai 90?" *memang sih aku ini ga pinter-pinter amat, tapi ketimbang amat lebih pinter aku sih, LoL
jreeeeng ... -___- akunya langsung bingung, jawabannya "Emang kenapa ? Aku dapet segini ya pasti karena belajar lah.." *pake nanya lagi (dalam hati)..
trus aku mikir, toh kan sama aja mau 87 atau 90 ya tetep aja kan sama2 dapet A.

Selanjutnya nih, yang ga jauh beda ama kasus di atas.
Ada temen yg kalo ada temennya ngedapetin IPK lebih tinggi dari dia yang padahal hanya berbeda 0,03 lhoo...
misalnya nih,,aku IPK 3,87 *mimpi... haha,, trus temen sy 3,84.. dia malah sibuk selangit, Kayak besok udah  mau kiamat aja hebohnya. saya malah heran, kok gtu amat ya?? toh kan sama aja bisa lulus CUMLAUDE.. hedeeeuuu -___-

yang mau aku perjelas adalah... gini ya manteman...
kadang kita gak usah terlalu 'gmana' gtu dehh dengan nilai yang padahal gak jauh beda. yang penting kan sama2 CUMLAUDE, sama2 dapet A,,
Kuliahan itu bukan lagi jamannya kayak SMA dulu yang ranking 1 cuma bisa didapetin sama satu orang doang. Di dunia perkuliahan baik S1 atau S2 atau S3, SIAPA AJA BOLEH kok dapet nilai A mau seratus orang kek, mau 200 orang ya ga masalah. Lagian kamu juga gak perlu takut kalau IP kamu tersaingi. Apalagi kalau sampai pelit ilmu dan gak mau berbagi. Helloowww, narrow minded banget sih orang-orang yang kayak gitu. Jangan pernah takut ilmu kamu bakal habis karena berbagi ilmu dengan yang lain. Apalagi takut bagi ilmu karena takut nanti nilainya malah lebih rendah dari yang mengajari. 
Kayaknya mesti inget-inget lagi deh hadist ini,

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893).

Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)
mulai sekarang, semangat aja deh kuliahnya, kuliah yang bener, belajar rajin, saling berbagi ilmu, gak perlu saling takut atau iri karena entar tersaingi. Tuh, inget, dapet pahala malahan loh.

By the way,
mau nge-share foto dua tahun yang lalu


Yudisium Sarjana, Oktober 2014
Alhamdulillah dinobatkan sebagai mahasiswi lulusan IPK tertinggi
Perwakilan lulusan FKIP menyampaikan pidato terima kasih di Yudisium Calon Sarjana

Lulus dengan predikat Cumlaude


Wisuda Sarjana, Desember 2014
Dukungan dan do'a dari keluarga adalah hal terpenting

Ini fotoku wisuda bareng teman satu genk, Desember 2014
*jadi inget dikejar sama pegawai FKIP karena telat dateng ke barisan


- Semangat 2017 -

Selasa, 14 Februari 2017

Buat yang Galau Nikah atau Melanjutkan S2?

Sore tadi ngebongkar catatan-catatan di facebook yang udah jadul banget. Jadi sempat terpikir untuk dikoleksikan aja ke blog ini. LoL
Ga terasa blog ini nanti bulan Juli udah genap setahun. Ada rencana untuk ngubah menjadi ".com" atau bahkan nulis buku? Mimpi sih boleh, tinggal milih aja, habis mimpi mau tidur lagi atau mau mewujudkannya. *tsssaahhh..

well, tulisan ini udah eksis di catatan facebookku sejak 11 Juli 2015. Ada yang kepengen tau ga sih kenapa judulnya itu? Sedikit dibocorin nih. ahaha.. akhir 2014, Desember lebih tepatnya, aku sudah menyelesaikan studi S1. Selanjutnya, aku memang pengen banget sih ngelanjutin S2 dan di Luar Negeri. Why not? Akhirnya, aku memutuskan untuk menunda mengajar sana sini, lebih fokus untuk les dan tes toefl. Beasiswa seperti AAS, Turkiye Buslari, LPDP dan LPSDM sudah aku coba, tapi hasilnya? Totally FAILED! Awalnya masih santai sih, biasa aja. Namanya juga kehidupan, kayak roda aja, kadang di atas ya kadang di bawah. *Syarat dan Ketentuan GAK berlaku. Semuanya pasti akan merasakan. Sampe akhirnya, statement yang beginian itu makin banyak:
"Eh, lulusan cumlaude kok ga dapat beasiswa sih?"
"Ngapain aja? Kok ga ngelanjutin studi magister? Kan kamu cumlaude."
"Kerja dimana sekarang?"
"Kok liburan aja sih? Bukannya ngelanjutin S2 malah liburan mulu. Ngabisin umur dan waktu aja."
yang paling DOWN banget itu saat aku ga lulus tes beasiswa LPSDM dari Pemerintah Aceh. Kayaknya klimaks banget deh. Puas banget itu yang ngomongin aku. Hahaha. Panas banget ini telinga. *wooyy, tulisannya mana? Curcol mulu deh.


Baiklah.. ini segelintir tulisanku di bulan Juli, satu setengah tahun yang lalu.

Catatan ini terinspirasi begitu saja.

Hanya ingin menyampaikan apa yg ingin disampaikan.
Menurut saya, semua yg sudah terlahir ke dunia adalah orang-orang yang menang. Kenapa? Smua pasti sudah tau bagaimana proses sejuta sperma menembus satu ovum. *pelajaran IPA tingkat SMA*, singkatnya hanya satu sperma saja yg berhasil lolos hingga akhirnya terlahirlah seorang bayi, yaitu diri kita sendiri. Perjalanan hidup yg panjang awalnya dibimbing dan diajari oleh orang tua mulai dari bagaimana merangkak, berdiri, membaca, adab ketika ini itu, dan banyak lagi lainnya. akhirnya tiba pada titik ini *umur kita sendiri saat ini*.. 



Singkatnya, setelah perjalanan kuliah selama 4 tahun *lebih dikit. Hehe*, saya merasa smua permasalahan hidup orang lain itu ya udah aja kerumitannya masing-masing dan pasti ada kebahagiaannya juga. Lagipula buat apa terlalu ikut campur. Hidup itu pilihan yg ada ditanganmu, tp Tuhan yang tentukan alurnya.



Mau menikah setelah s1, ya silahkan. Jika sudah mampu dan berkomitmen, kenapa tidak ? Dikatai orang, "kok cepet nikah? Ga lanjut lagi studinya? and bla bla bla" such a sh*t question, dude! Gini deh ya.. Orang-orang yang mulutnya begituan mesti dilurusin deh pemikirannyaSebenarnya, itu semua udah diatur oleh Tuhan,

Pertama ni ya, kali aja rejekinya untuk melanjutkan studinya ya bareng suami. Lah, romantikanya kan jadi lebih asoy geboy. Kedua, ada juga tuh yang udah menikah tapi tetep lanjut studinya dan malah ga terganggu, trus selama menikah malah makin semangat. Romantikanya, bung! Ketiga, ya kalau dengan menikah menjadikan pribadinya lebih baik, ya why NOT gituuhh? Banyak hal positif yang dilahirkan dari menikah bagi orang-orang yang beriman dan yang mengetahui sih. Not, all.  Hal terpenting adalah gak ada satu orang pun yang mengetahui  rencana indah yg sudah disusun Tuhan ? :) Menikah bukan menjadi hambatan bagi sebagian orang yg sudah merasa mampu menjalaninya dan berkomitmen. trus ya alasan berikutnya, yang keempat, bisa jadi dianya udah dipertemukan jodohnya oleh Tuhan lebih cepat dibandingkan teman-temannya. Mau bilang apa coba ? Rencana Tuhan smuanya, bro dan sis. Hehe.. nah yo, buat temen2 yg pada punya prasangka aneh, coba deh positive thinking tentang menikah setelah S1. Gak ada salahnya kok teman-teman yang memilih menikah setelah lulus Sarjana. *jangan negatifnya mulu yg dilihat dan diniliai begitu saja tanpa adanya kajian pustaka lebih lanjut - biasa dilema mahasiswa pasca wisuda. Ahay!



Permasalahan yg kdua yg sering saya dengar, "tuh kan keasikan sekolah lagi atau tuh kan asik kerja mulu Sampe ga nikah, jadi orang gamau lamar deh". *alasannya, ketinggian sekolahnya atau keberatan titelnya. Nah, menurut saya, itu tandanya Tuhan belum mempertemukan dia dengan jodohnya makanya belum nikah. Tuhan sedang mpersiapkan yg terbaik loh pastinya untuk setiap kita ini. Skenario Tuhan, gak bakalan ada yg bs bantah. Trus, kenapa emangnya dengan lanjut studi lagi? Masalah buat loe *gtu sih katanya gaulnya. Hehe. Kalau ada kemudahan dana atau mau ambil scholarship, ya silahkan lanjutkan. Jika masih ada keinginan buat lanjut, ya silahkan. It's up to you, guys. Ga usah takut, ga dapet jodoh karna harus ngelanjutin studi, smua udah diatur Tuhan, ga perlu khawatir. Kalo emang sepulang studi belum menemukan jodohnya, berarti kamu bakalan dikasi yg terbaik oleh Tuhan pada waktu yang tepat. Skenario Tuhan itu indah loh. *inget inget jangan negatif terus yang dipikir. Di case yang beginian aku jadi inget temanku yang juga scholarship hunter, Kak Annisa Hazrina yang sekarang sedang lanjut studi di Leeds University, UK. Kata kak nisa, "lebih baik kehilangan pacar ketimbang kehilangan beasiswa. Pacar bisa dicari kok di komunitas beasiswa." LoL
entah kenapa, AKU PADAMU banget deh kak Anis sama kata-katamu ini.



Intinya, kita semua ini, maut, rejeki, dan jodoh itu sudah diatur dengan rapi skenarionya oleh Allah jauh sebelum kita dilahirkan dan sudah tertulis di Lau Mahfudz sana . Jalani aja hidup sesuai pilihanmu dan yang terbaik yg diberikan oleh Tuhan. Gak usa peduli dengan omongan negatif yang tidak membangun semangat diri. Toh, kita juga yg ngrasain dan ngejalanin hidup ini bukan orang-orang yang suka protes ini dan itu tentang hidup kita.. Lagian emangnya dia yang ngomongin kamu itu bapak ama emakmu? Kan bukan, siapa juga mereka itu seenak mulutnya ngomong begituan. hadeeehh.. manusia jaman sekarang hobinya ngurusin kehidupan orang lain mulu. Pastinya satu lagi ya untuk mantemans, Be Yourself or KUN ANTA! :D No Doubt dengan pilihan yang teman-teman ambil. 

Dream BIG - Believe In Yourself and Follow Your Dream!



Semoga Bermanfaat dan bisa jadi mood booster untuk teman-teman yang galau. Ahay!
With Love,

Diniya,
Anak Kos Pondok Arimba, Bandung.

Jumat, 10 Februari 2017

Tes Keseimbangan Kecil

Tes ini diambil dari buku karangan Dale Carnegie, yang berjudul Life Is Short, Make It Great. Tes Keseimbangan ini bertujuan untuk mengetahui apakah hidup Anda selama ini seimbang atau tidak.

Di bawah ini terdapat sejumlah pernyataan.
Jawablah dengan 'Benar' atau 'Salah'


  • Pekerjaan memakan waktu saya lebih banyak daripada yang saya kehendaki
  • Saya sudah jarang melakukan sesuatu yang "hanya untuk saya"
  • Hari-hari saya penuh dengan aktivitas
  • Saya tidak memanfaatkan rekreasi, baik yang berkaitan dengan hari libur saya
  • Waku yang saya luangkan untuk minat dan hobi di luar ruangan semakin berkurang
  • Saya jarang ke bioskop, konser, museum dan lainnya
  • Saya sering melewatkan acara-acara keluarga yang penting
  • Saya sering membawa pulang pekerjaan
  • Saya hanya meluangkan sedikit waktu dengan teman-teman saya
  • Saya merasa lelah pada hampir sebagian besar waktu
  • Saya lebih mudah jengkel dari biasanya
  • Saya lebih sering mengeluh dari biasanya
  • Saya tidak menikmati pekerjaan saya seperti dulu
  • Saya melakukan banyak hal hanya karena kewajiban terhadap orang lain
  • Setiap hari saya hanya mendapatkan sedikit rasa puas
Jika Anda menjawab "Benar" lebih dari tiga kali, berarti hidup Anda tidak seimbang.

Dasar-dasar keseimbangan menurut Dale Carnegie (pg. 44), 
STOP WORRYING and START LIVING (Berhentilah Khwatir dan Mulailah Menikmati Hidup)
  1. Penuhi benak Anda dengan pikiran tentang kedamaian, keberanian, kesehatan dan harapan
  2. Jangan pernah mencoba seri dengan musuh-musuh Anda
  3. Jangan mengharapkan terima kasih
  4. Hitunglah rahmat yang Anda terima, bukan masalah Anda
  5. Jangan meniru orang lain
  6. Cobalah untuk mengambil keuntungan dari kerugian Anda
  7. Ciptakan kebahagiaan untuk orang lain

Apakah hidup Anda sudah seimbang? Semoga postingan ini bermanfaat bagi para readers.

Selasa, 29 November 2016

PART 1

Seiring berjalannya waktu maka semakin bertambah pula usia. Semakin banyak bertemu dengan orang-orang maka semakin banyak pula pengetahuan kita bagaimana menghadapi orang lain. Rambut di kepala memang sama hitam, tapi isinya kepala pasti berbeda-beda. Semakin banyak pengalaman yang kita lalui seharusnya semakin bijak pula langkah dan sikap yang akan kita ambil. Namun tidak jarang pula ada yang trauma dengan pengalaman yang pernah dialaminya. Rasa takut bahwa pengalaman pahit tersebut akan terulang kembali juga mungkin akan terbersit di dalam hati atau pikiran.

 (to be continue ...)

Minggu, 16 Oktober 2016

HIDUP adalah PILIHAN

Pandangan saya bahwasanya setiap manusia yang hadir atau dilahirkan ke dunia adalah pemenang kehidupan. Kehidupan adalah sebuah keharusan yang harus dijalani. Memilih untuk hidup adalah pilihan semua orang namun akan menjadi sebuah kemurkaan Tuhan jika mendahului takdir kehidupan.

Kenapa saya menyebut semua manusia yang dilahirkan adalah seorang pemenang? Masih ingatkah kita bagaimana seorang bayi tercipta? Kembali lagi kita membuka surah Al-Hajj ayat 5 mengenai penciptaan manusia. Disebutkan bahwasanya manusia tercipta dari segumpal tanah (penciptaan Nabi Adam) dan keturunannya terbuat dari setetes mani/sperma. Masih ingatkah pelajaran biologi mengenai reproduksi pada manusia? Telah kita ketahui bahwa beribu-ribu sperma dari ayah datang menuju ovum (sel telur) sang ibu, namun satu yang akan menembus ovum dan itulah nantinya yang akan berkembang menjadi embrio. Bayangkan saja, dari beribu-ribu hanya satu yang mampu menembus zona pellusida (kulit sel telur) ! Masya Allah, bahkan sebelum manusia dilahirkan ia telah bersaing mengalahkan ribuan teman-teman lainnya di dalam proses pembentukannya. 

Lantas saya ingin menegaskan, mengapa masih ada yang tidak percaya dengan kemampuan yang dimiliki dalam dirinya sendiri? Sejak pembentukannya saja ia adalah pemenang. Hal ini sangat sesuai dengan apa yang telah disebutkan pula oleh Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 30, bahwasanya semua manusia di muka bumi adalah khalifah yakni pemimpin, Setiap mausia adalah pemimpin, apakah bagi dirinya sendiri, temannya atau manusia lainnya. Untuk teman-teman yang masih merasa minder atau tidak percaya diri, semoga bisa menjadi lebih percaya diri untuk ke depannya karena kita semua adalah pemenang dan pemimpin.

Kehidupan adalah sesuatu yang harus dijalani oleh setiap manusia yang sudah hadir di dunia ini. Kenapa? Karena Allah sudah mempercayakan kita untuk lahir dan menjadi khalifah di muka bumi. Maka kenapa masih mengeluh dengan kehidupan yang terjadi pada diri sendiri? Kenapa masih merasa iri dengan kehidupan orang lain? Jika manusia menginginkan kehidupan yang baik maka lakukanlah hal yang baik. Jika mengharapkan kehidupan yang buruk maka lakukan hal buruk. Hal ini tertuju dengan konteks selanjutnya hidup adalah pilihan. Allah telah jelas menyatakan bahwasanya jika yang berbuat baik maka imbalannya syurga dan jika yang berbuat jahat maka imbalannya adalah neraka. Maka sekarang kembali pada setiap pribadi manusia itu sendiri ingin memilih yang mana?

Saya cukup heran dengan orang-orang yang punya waktu untuk mengkritik kehidupan orang lain atau bahkan menjatuhkan mental orang lain dalam menghadapi kehidupan. Apa yang mereka dapat setelah memberikan tanggapan negatif terhadap orang lain? Merasa puas? Saya rasa kepuasan dalam konteks hal seperti itu adalah kepuasan yang sangat kecil ukurannya dibandingkan dengan sibuk memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Dalam hidup saya, ada satu prinsip kehidupan yang tidak bisa orang lain pengaruhi yakni "Setiap saya bertemu dengan orang lain apakah orang yang baru saya temui atau yang sudah lama kenal maka saya akan membuat suatu momen kebahagiaan yang akan bisa diingat oleh mereka. Sehingga saya bukan menjadi orang yang ingin dilupakan atau tidak diinginkan dalam kehidupan mereka". Betapa indah jika semua dari kita membagikan kebahagiaan dan kebermnnfaatan bagi orang lain. Ya, seperti yang saya katakan sebelumnya, hidup adalah pilihan setiap orang dan saya sudah memilih. Bagaimana dengan para pembaca? Sudahkah memilih? Kalau belum, yuk setelah membaca postingan ini, para pembaca mulai menuliskan pilihan-pilihan kehidupan yang akan dilaksanakan. Akan menjadi lebih baik jika pilihan itu membawa kebermanfaatn bagi diri sendiri dan orang lain.

Semoga kita semua ditujukan dalam kebaikan. Amiin ya Rabbal 'Alamiin.

Sabtu, 17 September 2016

A Philosophy of Photo Filter

Life is like a photo filter.


Some are darken and brighter.
It means that sometimes your life is getting darken because of problems, worries, and when frightened comes.

Sometimes your life is getting brighter because of happines and joy.

This life is what you make it.
This life is what you plan it.
This life is what you want it.
But remember, God has the greatest power of this life.

No matter what, you are going to mess up sometimes, getting a darken phase of life, making mistakes, misunderstanding about something, being anger, sadness comes repeatly. All is a universal truth. All ordinary people ever felt all those phases.

But the good part is you get to decide how you are going to mess it up. Girls will be your friends - they will act it anyway. But just remember, some come and some go. You need to realize it. They have their own life too like you. You don't have any rights to force them not to go. Then, one thing you should remember is the ones who stay with you through everything - they are your true best friends. Do not let go of them. Also remember, sisters make the best friends in the world.

As for lovers,
Well, they'll come and go too.
Honestly, i hate to say it. Most of them are going to break your heart, but you can't give up. Why?

Because if you give up, you'll never find your soulmate. You never find that half who makes you whole and that goes for everything.

Just because you fail once, it doesn't mean you're gonna fail at everything, darl.

Keep trying, hold on, and always always believe in yourself. Because if you don't. Who will ?

I am grateful to the God. having great family who always cares me. Then, next He makes a chance for me to meet my proton capsule. When i don't have any confidence here, proton capsule is who cheers me up, says many positive things, keeps my head high, keeps my chin up, and the most important keeps smiling on my face. There's so much to smile about.

~ there is a rainbow after heavy rain 💕

Rabu, 14 September 2016

A Philosophy of Wristwatch and Love

What kind of words cross on your mind when someone say about "wristwatch"?



A punctual person, wrist accesories, rich man, stylish or something else.

Actually, there is a hidden meaning. This meaning is only covered by someone who really realize "time is a really precious thing".
This will be meaningful to someone who really appreciate it.

Wristwatch is defined as time.
Then the question is "do you use your time wisely?"

Frankly, without we know or not, some of us are too long in desperate time such as brokenheart.

We almost know that love brings up emotions that run the gamut from agony to ecstasy.

Love can inspire us to accomplish some of the craziest and most amazing feats.

Love can give a strength for us and we will say "there is nothing i fear if i am with you".

Love can make you happier than you've ever beensadder than you've ever been, angrier than you've ever been. It can elate you and deflate you almost at the same time. 

thank you to the one who makes me realize the main things of time and love.

The most wiseword "It doesn't matter how worse your life in the past years. You still have time in the future. You have a right to choose your life path. Learn from your past and have a purely white and bright future".

Kita Lupa

Kecerdasan bukanlah semata karena tingginya nilai IQ yang Anda miliki,
Tapi IQ mestinya adalah tolak ukur untuk menilai seberapa besar Anda telah membagi ilmu. Semakin tinggi IQ maka semakin besar ilmu yang Anda bagikan.

Sukses bukanlah sejauh mana Anda melangkah,
Tapi jauhnya Anda melangkah adalah untuk membantu Anda menjadi tahu lebih banyak seperti apa kehidupan di sepanjang jalan.

Jabatan bukanlah sesuatu yang dijadikan alat untuk pertunjukan di kehidupan sosial,
Tapi bagaimana Anda mampu bersosial di masyarakat melalui jabatan.

Bahagia bukan banyaknya harta yang Anda miliki,
Tapi harta Anda adalah untuk membantu orang lain turut menjadi bahagia.

Kenyamanan bukanlah lamanya waktu yang Anda habiskan untuk mengenal seseorang,
Tapi waktu adalah suatu dimensi yang mampu memperkenalkan Anda pada seseorang yang mampu memberikan kenyamanan.

Benar, terkadang kebanyakan dari kita lupa mengenai esensi sebuah kata sehingga menjadikan dendam yang mengendalikan diri.

Thank you for accompany me. It is not too late to realize everything, right?

Stranger said "it doesn't matter how bad your life in the past years, you still have a purely white and bright future".

Rabu, 15 Juni 2016

Dua Pelajaran Berharga di KA Commuter Line Jabodatabek

Malam ini gak ngeposting makanan. Hehe.. Jadi mau nulis apa ?

Mau nulis pengalaman pertama naik KRL Jabodatabek dari Bogor ke Jakarta Kota. Dari kosan ke stasiun Bogor bisa naik angkot 06. Ongkosnya cuma 3500 rupiah sekali pergi. Atau temen-temen bisa naik gojek. Tarifnya 12.000 rupiah. Biasanya kami naik gojek itu kalau weekend karena bogor pasti rame banget kalo udah weekend dan kalo kamu naik angkot malah bisa belumut. Wekekeke.. Jadi kalau gak rush hour ya aku naik angkot. Kalo lagi rush hour saranku kamu mending pesen gojek online deh. Eits, tapi hati-hati juga ya. Beda banget gojek atau grab driver yang di Jakarta dan yang di Bogor. Kalau di Bogor itu, ada ojek pangkalan yang ngeliat gojek atau grab sedang angkut penumpang. Baaahhh, bisa di stop deh. Kaya aku kemarin itu, kesian abang grab driver, di stop sama ojek pangkalan. Padahal aku udah coba ngebelain dia. Teteup aja, para ojek pangkalan ituu bersikeras. Biasa aku liat juga ojek itu gak ada, makanya aku pesen grab atau gojek online. Hedeeehhh..

Next, ke stasiun Bogor itu gak jauh kalau dari Botani, palingan 10-15 menit kalau gak macet. Nyampe stasiun Bogor, jangan lupa beli tiket yaa.. liat deh Jalur berapa kereta yang menuju Jakarta Kota. Ohya, ada perbedaan penyebutan kalau di wilayah Pulau Jawa dengan Aceh. Apa sih? Ayo coba tebak? jawabannya, kalau di Aceh kebanyakan orang mau bilang sepeda motor itu dengan sebutan "kereta". Jadi sering dalam percakapan sehari-hari akan ditemukan seperti ini, "Eh, dimana aku parkir kereta aku tadi ya?" Kalau yang di Pulau Jawa itu, menyebutkan sepeda motor ya dengan kata "motor" karena kalau kereta itu adalah kereta api. Jadi kalau orang Aceh pergi ke Pulau Jawa menyebutkan kereta maka akan disangka kereta api. hehe. So, buat temen-temen jangan salah sebut ya? hihihihi...

Waktu yang diperlukan dari Bogor ke Jakarta Kota sekitar 2 jam kalau gak macet juga itu kereta. Macetnya karena ada gangguan jaringan biasanya. Paling takut kalau misalnya di jalur kereta yang lain lagi ada yang anjlok. Baahhh itu bisa sampe 2 jam di KRL. Gambar di bawah ini KRL Jabodatabek yang pernah aku naiki.




Ohya, aku suka lupa udah nyampe stasiun mana dan stasiun mana. Jadi aku download rute KRL dan aku save di galeri handphone. bahahaha..


Ohya, KRL ini udah ada sejak 1974 loh sebenernya, tapi yah gak secanggih yang sekarang. sekarang lebih dikenal dengan Kereta Api Commuter Line atau KA Commuter Line. Kenapa sih disebut KA Commuter Line? kalau KA udah jelas lah ya Kereta Api kalau commuter artinya bolak balik. Jadi ini kereta apinya dalam sehari bolak-balik terus dari jam 7 pagi sampe jam 11 malem. Line ya jalur artinya bolak balik itu kereta apinya dalam satu jalur. Kira-kira begitulah ya.. Kalau KA Commuter Line ini didirikan oleh anak perusahaan Kereta Api Indonesia (KAI) yaitu PT KAI Commuter Jabodatabek. 

Aku paling seneng naik KRL karena tarifnya itu muuuurrrraaaahhh bingits. Dari Bogor ke Jakarta bayangin deh 2 jam cuma 5ribu doang. Bolak balik cuma 10ribu. kalo deket ya cuma 2ribu. Jadi, pertama pengalaman berharga buat aku, aku ngerasa uang 2ribu itu berharga banget di sini. Beda banget sama di Aceh. Kalau udah 2 jam ya ongkosnya udah kisaran 20ribu atau lebih dan itu untuk sekali pergi doang. Bayangin kalau udah bolak balik?

Aku juga seneng di KRL karena ada penyejuk udara alias AC. Hahaha.. sangat kampungan! Ini foto dalam KRL.




Aku mau share dikit nih. Aku salut banget deh sama salah satu sifat dari lelaki di sana, ya di Jawa maksudnya. Hal itu bisa jadi pelajaran berharga  kedua buat aku yang notabene berasal dari luar Pulau Jawa. Apaan sih, Din?

Jadi gini, di KRL itu ada gerbong khusus wanita dan gerbong umum nih ceritanya. Nah, kalo gerbong wanita ya khusus wanita aja yang boleh masuk, kalau kaum adam tak boleh, sedangkan di gerbong umum, semuanya boleh masuk apakah lelaki atau wanita.

Trus aku mau nyampein apa sih? Ini yang mau aku sampein, kalau di gerbong umum, ga usah takut deh kalo bagi ibu hamil, ibu yang udah tua, nenek-nenek, ibu yang punya anak, anak kecil, atau penyandang cacat. Kenapa ? kalau lelaki ini melihat ada kaum-kaum yang saya sebut di atas, SUDAH PASTI mereka langsung bangun dan memberikan kursi mereka kepada kaum tersebut. Wiihh, salut deh aku. Beda banget ini sama di Aceh. Yang lelakinya mau itu nenek kek, ibu hamil, dsb pasti lelaki pada EGP alias Emang Gue Pikirin. Baaahhh, budaya yang harus pelan-pelan diubah deh menurut aku. Menurut para pembaca gimana?

Setelah 2 jam, akhirnya tiba di Stasiun Jakarta Kota.



suasana dalam stasiun Jakarta Kota

selfie sama kakakku

                         suasana luar stasiun Jakarta Kota

Abaikan aku yang di foto itu terlihat begitu tambun. Oh tidak!


Next posting, perjalanan ke Kota Tua.. Ditunggu ya gayes!