RSS

Rabu, 15 November 2017

Kebutuhan atau Bukan?

Hellow, udah berapa minggu ya ga nulis d blog. Hmmm.. kali ini mau nulis apa ya? Oh, ini deh. 

Kemarin ada pelajaran berharga buat aku saat aku bilang "I know, how to manage." Trus si lawan bicara aku bilang, "Buktinya baru-baru ini kamu balik Aceh cuma gara-gara sakit doang", "Baru-baru ini kamu juga beli hape baru". Astaghfirullah! Duuuh, nyesss banget ke dalam hati. Tersingggung? Engga sih, kan dia ngomongnya di depan aku bukan ngomongin aku di belakang. Marah? Ya engga, dia udah jujur kan mau bilang apa yang ada di hatinya. Tapi yang bikin gimana gitu ya statementnya dia itu. Posisinya dia itu, dia ga tau apa ya kalau aku sakit tipes yang bakteri Typhi-nya itu udah parah banget, ada 3 jenis Typhi yang ada di tubuh aku yang sedang 'memakan' imunitas tubuh. Mau jalan aja lemes, mau ngerjain tugas kepala pusing luar biasa. Ini ya, ada malahan temenku yang sama tingkat satu jenis Typhi, dia aja udah sampe pingsan. Konon lagi aku yang tiga jenis. Hmm.. Kebayang ga sih? Malahan ada salah seorang temenku yang sekelas bilang gini, "Kok kamu bisa sekuat itu sih mbak nahan sakit? Pasti sakit banget kan?" Aku cuma nyengir aja.  Jadi ya sebenernya aku ga pengen pulang Aceh, pasti tiket mahal banget. Tapi ya sama aja sih biaya RS di Bandung kan mahal banget, belum lagi ga ada yang bakal nemenin di RS. Temen? Pastilah mereka sibuk dan aku tipe orang yang ga suka ngerepotin orang lain. Ga enak aja rasanya. Jadi yaudah, balik ke Aceh aja biar bisa ngilangin homesick dan ketemu ortu.

Terus masalah beli hape baru, aku ngerasa yang ngomong kayaknya kurang paham deh sama yang namanya boros dan memenuhi kebutuhan. Aku beli hape baru juga udah beberapa bulan mikir buat "Beli ga ya? Perlu ga ya? Mahal ga ya?" Ah, udah lah beli aja kali ya, toh nanti perlu banget untuk penelitian tesis, foto-foto pas wisuda, dan lainnya. Trus ya mikirnya sekarang lagi ada, mungkin ke depan ada kebutuhan lain sampe ga kebeli. Menurut aku juga, sekarang hape itu udah jadi kebutuhan primer sih bukan lagi sekunder. Kalau aku emang boros, ga bisa memanajemen uang dengan baik dan bahkan lebih mementingkan gaya hidup. Kenapa aku ga beli iphone 8 atau bahkan iphone X? Toh di tabunganku cukup kok buat beli 3 iphone itu. Tapi, kenyataannya aku cuma beli hape yang biasa aja, asal udah bisa foto bagus, mudah dibawa kemana-mana dan murah lagi. Iya, karena aku beli sesuai kebutuhan bukan boros. Trus kalau aku emang boros, situ siapa? Yang ngasi makan aku juga bukan, yang ngasi duit jajan ke aku juga bukan. Heran aja sih. Kecuali ya situ yang ngasi makan aku, situ yang ngasi uang jajan aku, situ yang negbiayain hidupnya aku. Lah ini kagak. Ckckckck. *sambil geleng-geleng kepala.

Heran aja ya, orang jaman now. Cepat banget judging (read: jadi pelajaran untuk aku juga). Bisa jadi menurut kita itu bukan kebutuhan tapi bagi orang lain itu kebutuhan. Kenapa sih kita ngerasa seseorang itu boros atau ga bisa memanajemen keuangan? Ya karena kita udah punya benda itu, sedangkan mungkin orang lain belum punya. Sehingga dia membeli. Wajar dong, apalagi kalau itu kebutuhan primer kayak kasus hape tadi. Orang yang udah punya hape bagus akan ngerasa kalau aku itu boros dengan membeli hape, wajar dong aku beli itu kebutuhanku loh. Kamu ya ga jadi kebutuhan lagi karena kamu udah punya hape bagus kan? Mestinya kita bisa bilang orang lain ga bisa memanajemen keuangan melalui gaya hidupnya. Menurut aku, orang yang beli sesuai kebutuhan, dia akan beli sesuatu yang seadanya namun layak meski ia sebenarnya bisa membeli yang lebih mahal dari itu. Itulah yang dikatakan dia bisa memanajemen keuangan (versi aku sih). Trus contoh lainnya, "Ihhh.. beli jam mahal banget sih." Sekarang gini deh, mendingan kamu beli jam 500ribu tapi bisa dipake 6 tahun ga ganti baterai, ketimbang beli jam di emperan pasar baru, 35ribuan, belum 2 jam pemakaian eh udah ga gerak lagi jam itu, trus besok beli lagi yang lebih malah dikit 100ribu, 3 bulan pake udah berkarat dan mengelupas tali jamnya, besok beli lagi, bisa-bisa setahun 6x ganti jam udah 600ribu. Ya kenapa ga beli mahal sekalian? 600ribu bisa untuk 6 tahun loh. Nah loh? Gimana? Kamu masih bilang orang yang beli jam mahal itu orang yang ga bisa memanajemen keuangan? Engga kan? Justru dia yang beli jam mahal lebih hemat dan lebih pinter memanajemen. Baru bisa bilang dia boros atau ga bisa memanajemen ya kalau dia udah ngebeli 1 jam yang harganya mahal padahal bisa awet bertahun-tahun , tapi dia ngebeli lagi yang mahal, besok beli lagi. Lah itu yang dikatakan boros.

Jadi sebenernya, membeli sesuai kebutuhan bukanlah berarti seseorang tidak bisa menajemen keuangan dengan baik ataupun boros. Ga perlu ngedengerin orang komentar apa ke kamu. He just don't know kan kondisi kamu lagi butuh apa engga. He just know how to judging without knowing behind. Have a nice day!

Minggu, 29 Oktober 2017

Shape Yourself, Duhai Wanita

Bandung, 29 Oktober 2017

Selamat sore, semua pembaca! Tulisan ini hadir di kala diri sedang lenyeh-lenyeh di atas ranjang tanpa melakukan kegiatan apapun. Ada sih sebenarnya, hanya scroll down sosmed-sosmed yang ada di smartphone. Like usual, buka whatsapp dan tutup, kemudian buka line dan tutup, kemudian buka instagram dan tutup, buka gmail dan tersadar! Hahaha.. Syukurlah tersadar, tidak kembali mengulang rute buka-buka sosmed.

Aku akui, punya smartphone berpeluang membuat seseorang lalai. Tapi gak sejelek itu juga sih, bagi sebagian orang ada yang menggunakannya untuk aktivitas jual-beli dan endorse. Nah, endorse! Sedikit ingin membahas terkait endorse. Cukup bagus menurutku. Adanya endorse mempermudah pelanggan menemukan toko yang cocok atas kebutuhan yang diperlukannya. Eits, tunggu dulu. Ada yang ingin aku garis bawahi di sini. Jangan sampai endorse membuat seorang wanita di'cap' dengan yang tidak baik. Kenapa? Tidak sedikit yang endorse itu memakai baju yang minim atau sebut saja pakai baju yang tidak cukup kainnya, membuka aurat? Ya, kebanyakan juga ada tapi tidak sedikit juga ada yang menutup aurat. Hmm, kalau itu sudah pasti endorse gamis atau hijab syar'i. Tidak sedikit juga yang tidak memakai jilbab, namun ada juga yang memakai jilbab tapi tidak sesuai dengan yang dianjurkan dalam agama. Kenapa? Jual-beli jilbab tapi modelnya memakai dengan cara yang salah. Syukurlah kalau yang difoto hanya bagian wajah, bagaimana jika full body? Jilbab yang tidak menutup dada seperti yang dianjurkan dalam agama kita yaitu Islam. 

Surat Al-Ahzaab, ayat 59,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Cukup bagus sebenarnya karena mengajak wanita yang tidak berjilbab menjadi tertarik untuk memakai jilbab. Namun, hendaknya disertai dengan pengetahuan bahwa memakai jilbab bukan hanya menutup bagian kepala saja. Ditambah lagi, para model endorse atau model jual beli hijab memakai make-up yang terlalu berlebihan. Sehingga menyebabkan orang yang melihatnya timbul nafsu. 
Ini masih fenomena endorse dan jual beli hijab, belum lagi selebgram. Aku hanya takut, dikarenakan sosmed masa kini malah mengekploitasi wanita secara besar-besaran hingga lupa bagaimana hakikatnya wanita yang sesuai dengan agama. Aku hanya takut, wanita hanya mementingkan penampilan secara fisik namun ia lupa memikirkan bagaimana cara meningkatkan kualitas ibadah dan akhlaknya. Bukankah sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita solehah? Tidak disebutkan perhiasan terindah adalah wanita yang berparas cantik nan rupawan. Aku hanya takut, para wanita cantik ternyata isi kepalanya kosong! Bukankah wanita akan menjadi seorang Ibu dan seorang Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, Ibu memegang peranan penting dalam membentuk generasi cerdas dan berakhlak baik?
Shape yourself dengan menjadi wanita yang cerdas, berakhlak mulia, sholehah dan memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Jangan hanya mengandalkan kecantikan fisikmu saja karena sewaktu-waktu Allah dapat mengambilnya darimu hanya dalam waktu sekejap saja. Tidak perlu takut ga akan ada lelaki yang mendekat, karena semua orang udah punya kriteria masing-masing. Orang yang mau mendekat dengan kamu pasti dia mencari sesuatu dan itu ada di kamu. Kalau emang dia ga mencari sesuatu itu di kamu ya pasti dia ga akan mendekati kamu. Tenang aja, masih banyak lelaki di dunia ini yang punya pikiran terbuka kalau cantik itu bukan dari pakaian dan make up tebal, bukan dari wanita tidak berkacamata kemudian wanita berkacamata tidak cantik, bukan pula dari rambutnya lurus atau keriting, bukan dari wanita yang memakai jilbab bermotif atau tidak, dan masih banyak lagi lainnya. Tinggalkan saja lelaki yang mencari kesempurnaan pada wanita tapi dia lupa dirinya jauh dari kesempurnaan.

Jumat, 27 Oktober 2017

Apa yang terjadi jika tak ada tekanan atmosfer?

Tekanan atmosfer adalah suatu istilah yang tidak asing lagi bagi siswa SMP ataupun SMA saat mereka belajar sains. Saya kurang tau apakah guru mengajarkan manfaat tekanan atmosfer bagi lingkungan sekitar atau tidak. Agar tujuan pembelajaran tercapai sudah barang tentu manfaat tekanan atmosfer tersebut haruslah dijelaskan. Penjelasannya juga ada baiknya dikemas dengan menarik. Untuk apa sih? Ya, agar siswa tertarik untuk belajar sains.

Adapun salah satu manfaat tekanan atmosfer adalah untuk menjaga penguapan air di muka bumi agar tidak berlebihan. Apabila tidak ada tekanan atmosfer maka bumi akan kekeringan. Hmm, kok bisa sih? Sederhananya, air yang ada di permukaan bumi akan dipanaskan oleh sinar matahari. Sinar matahari yang dipancarkan ke bumi dikirimkan dalam bentuk gelombang cahaya yang kemudian akan berubah menjadi energi panas. Energi panas akan memutuskan ikatan molekul air. Seperti yang sudah diketahui bahwa molekul air merupakan jenis ikatan lemah yaitu ikatan Van der Waals. Sehingga pada saat energi panas dari matahari memanaskan air maka energi panas akan memutus ikatan antar molekul air dengan begitu mudahnya. Molekul air akan bergerak ke atas atau menguap. Seperti yang udah kita tau pula, tekanan atmosfer itu akan menekan semua yang ada di bawahnya termasuk molekul air yang bergerak ke atas tadi. Akibat adanya tekanan atmosfer ini maka molekul air tadi tidak jadi menguap, ia akan ditekan kembali ke bawah. 

Bayangkan jika tidak ada tekanan atmosfer yang bekerja di alam ini. Maka molekul air akan sangat cepat menguap dan tidak ada molekul air yang berfasa cair. Selain itu, jika bumi tanpa tekanan atmosfer maka air juga dapat mendidih hanya pada suhu ruangan saja.

Wah, luar biasa ternyata yaa..

Minggu, 10 September 2017

Aku Memilih

Tulisan ini ditulis saat ada waktu yang sedikit luang di sela-sela kesibukan dan kegalauan menulis proposal tesis. Andaikan saja, menulis tesis sama seperti menulis di blog, tanpa perlu referensi yang seakurat jurnal Science Education, mungkin saja satu bulan semuanya udah selesai. Tapi ya tetap saja tidak mungkin. Haha. Ada sedikit yang ingin dibahas. Sejujurnya hal ini sedikit mengganggu pikiran.

Baiklah, seperti yang kita ketahui bersama bahwasanya teknologi tidak dapat lagi dipisahkan dalam kehidupan keseharian. Contoh sederhananya saja, saya nge-blog pakai notebook dan pakai tethering smartphone. Kebanyakan orang sudah kecanduan dengan teknologi terutama sejak adanya smartphone. Bagi sebagian orang akan berkata bahwa smartphone banyak diperlukan di zaman sekarang ini, apalagi era modernisasi. Saya cukup setuju bila fungsinya digunakan dengan sesuai not over. Misalnya untuk berkomunikasi dengan teman-teman sekantor, teman lama, atau keluarga hanya via whatsapp yang notabenenya semua bisa sangat irit biaya. Iya dong, cukup beli paket data 100ribu untuk 2 atau 3 bulan dibandingkan membeli pulsa dan sekali sms memakan biaya 250 rupiah. Coba saja dihitung sendiri, mungkin sebulan bisa habis 250ribu untuk pulsa. Nah, akan menjadi salah fungsinya jika semakin mudah komunikasi via whatsapp kah, bbm kah, line kah, kakao talk kah, dan aplikasi lainnya digunakan untuk mencari wanita-wanita yang dalam tanda kutip "ga bener" dengan mencari pin bb nya, terus pakai whatsapp untuk menggaet suami atau istri orang lain, melakukan perselingkuhan, dan lain sebagainya. Luar biasa karena akses komunikasi semakin bebas tanpa ada batas. 

Selanjutnya, penggunaan sosial media yang berlebihan dapat membuat efek yang luar biasa menurut saya. Penggunaan sosial media sih boleh saja, tapi harus dikontrol. Jangan sampai berefek ingin menjadi selebgram di instagram karena ingin terkenal. Kalau mampu ya tidak apa-apa, jangan sampai pengen jadi selebgram malah harus berhutang pada orang lain. Sekarang penggunaan instagram sangat luar biasa menurut pandangan saya. Banyak orang berlomba-lomba mengunggah foto-fotonya demi mendapat followers yang ribuan, agar terkenal, agar banyak yang like, dan lain sebagainya yang niatnya memang melenceng. Apalagi di instagram banyak wanita yang berpakaian seksi, rok mini, hot pants, berbusana yang tidak pantas dalam syariat Islam. Kalau wanita itu bukan muslim sih ya rapopo, tapi kalau muslim sungguh disayangkan. Memamerkan paha, dada, betis, sudah menjadi hal biasa di instagram. Semua free akses!!! Ini yang sangat bahaya!! Kalau diibaratkan instagram adalah sosial media yang pakai tanda lampu polisi 'wiu wiu wiu'. 

Bayangkan jika ada remaja di bawah umur mempunyai akun instagram, dia akan bebas akses melihat foto-foto yang seharusnya tidak dilihat. Apalagi mereka rasa ingin tahu nya masih sangat tinggi, bisa saja sehabis melihat instagram langsung praktek hal yang tidak diinginkan. Sangat disayangkan, anak-anak dengan usia dini sudah terkotori pikirannya. Kasus lain lagi, seorang suami yang melihat foto-foto wanita seksi di instagram baik disengaja atau tidak, kemudian ingin melakukan hal yang tidak diinginkan dengan wanita tersebut, atau melampiaskan dengan wanita selain istrinya maka apa yang akan terjadi ? rumah tangga bisa terguncang, perselingkuhan, perceraian sangat memungkinkan terjadi. Perceraian adalah hal yang sangat dibenci oleh Allah. 

Begitu banyak hal negatif yang dapat terjadi hanya dari akibat menggunakan smartphone dan mengakses medsos. Akibat sering melihat orang lain mempunyai barang mewah dan sering jalan-jalan tidak kecil kemungkinan kita akan menjadi kufur nikmat, suuzon, dan ghibah. Mengapa ? Saat melihat foto orang lain bisa saja terbersit, "ah, kok aku ga bisa hidup enak seperti dia ya?", Astaghfirullah, sungguh nikmat Allah begitu besar bagi kita, tak terhitung jumlahnya. Kita sibuk melihat kehidupan orang lain, sehingga kita lupa nikmat Allah sebenarnya begitu banyak pada kita.  Bisa melihat, berjalan dengan sempurna tanpa cacat, masih sehat pun adalah nikmat yang sangat luar biasa. Kemudian, melihat foto orang lain bisa saja terbersit, "uangnya dari mana ya? kok dia bisa beli barang mewah, bisa jalan-jalan ke luar negeri", maka suuzon pun akan menghantui kita. Apalagi jika ujungnya berghibah, Astaghfirullah. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal tersebut. Tapi kalau lah smartphone ini cerdas digunakan maka akan mendatangkan rezeki seperti jualan online.

Melihat fenomena tersebut, saya memilih untuk mengurangi frekuensi menggunakan sosial media. Ingin fokus untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri bukan malah menjadi wanita pamer bodi, kehidupan sementara ini jangan sampai kita lupa mempersiapkan bekal akhirat. Jadi ingat dalam ceramahnya AA Gym selalu mengingatkan agar hati-hati dalam menggunakan smartphone.

Semoga bermanfaat.

Selasa, 05 September 2017

C.E.R.E.W.E.T

Kata "cerewet" sering banget kita dengerin dalam kehidupan kita. Kata lain dari cerewet adalah bawel. Kebanyakan orang merasa risih dan kesal saat ada yang men"cereweti"nya. Kalau aku pribadi sih, kadang merasa senang dan kadang kesal. Tapi aku tidak pernah memperlihatkan kekesalanku. Aku biasanya hanya diam. Kali ini aku pengen menyadarkan eh bukan ding, lebih pengen berbagi perasaan ketika dicerewetin dan dikatain cerewet.

Pengalaman yang paling sering aku alami adalah dikatain kalau aku itu cerewet, bawel, dan kayak emak-emak. Aku suka rada kesel kalau dikatain cerewet. Gimana engga, menurut aku, cerewet itu tanda perhatian. Kalau aku ga cerewet tandanya aku udah ga peduli dan ga perhatian lagi ke orang. So simple! Tapi kebanyakan orang yang aku lihat lebih suka seseorang yang cuek, baik itu dalam hubungan pertemanan atau dalam hubungan asmara. Aku liat sendiri aja, di salah satu anggota geng aku jaman kuliahan S1, ada yang cuek banget, ya sekedarnya aja. Kalau ngumpul ya dia ngumpul. Kalau ngobrol ya dia ngobrol cuma dia ga mau tahu sama masalah temennya yang lain. Nah, sedangkan aku yang lebih aktif dalam saling memberikan masukan lebih sering mengalami masalah. sedangkan temenku yang cuek aja, malah santai-santai aja. Kalau temen yang lain ada masalah yaudah cuma nenangin doang. selebihnya ya elu atasi aja sendiri masalah lu. Kasarnya sih begitu.

ternyata di hubungan asmara juga gitu, aku pernah dikatain bawel. Jadi inget sama pengalaman temenku yang udah merit, kalau lelaki itu tidak suka dengan wanita yang cerewet. Lah, aku jadi mikir, orang yang cerewet itu biasanya perhatian banget. Tapi seringkali dianggap itu malah hal yang bikin risih dan nyebelin. Jadi para lelaki sukanya wanita yang cuek? wanita yang ngehubungin dia kalau lagi ada perlunya aja? Duh, pengen bisa jadi wanita yang begitu, cuek dan memanfaatkan lelaki. Enak deh kayaknya! hidup juga ga ribet, ga mikirin dia. Tapi apaaaa?? I am not that kind of girl!

Sepertinya aku terlahir menjadi wanita yang ceriwis wis, tapi ndak yo wis sama orang lain. Aku memang tipe orang yang pengen ngasi perhatian dan bantuan semampuku. Ga bisa aku berpura-pura cuek dan memanfaatkan orang lain begitu saja. Aku heran dengan orang-orang yang lebih memilih untuk lebih nyaman dengan orang yang tidak cerewet.

Aku lebih suka jika ada yang cerewet ke aku, ngasi perhatian ke aku. Tapi sayangnya ga ada, wkwkwk.. kebanyakan aku yang cerewet tapi eh malah dikeselin sama orang-orang dan dijauhin orang. Kalaupun cerewetannya kadang negbuat risih, lebih baik diem aja. Aaku sih yakin aja, pasti dia cerewet karena dia perhatian dan sayang ke aku. Kalau engga cerewet ya engga perhatian dan engga sayang. Yuk, kita menghargai orang-orang yang cerewet ke kita karena sebenarnya mereka sayang dan perhatian ke kita. Jangan malah kita kesel dan ngerasa risih. Kamu pasti bakalan ngerasa kehilangan saat dia ga cerewet ke kamu lagi. kalau udah kehilangan, baru deh datang si penyesalan,

Semoga bermanfaat..

Selasa, 29 Agustus 2017

Jangan Coba Menyulut Api

Bandung, 30 Agustus 2017

Akh, tidak terasa sudah di penguhujung bulan Agustus. Ternyata sudah akhir bulan ya? Kebanyakan orang akhir bulan merasa sedih. Tapi seperti kali ini tidak. Kenapa? Iya dong, awal September nanti bagi umat muslim akan merayakan Hari Raya Idul Adha. Wah, senangnya yaa.. Momen kembali berkumpul dengan keluarga. Tahun ini masih sama dengan tahun lalu. Idul Adha di tanah orang. Niatnya ingin pulang tapi kondisi badan sedang tidak memungkinkan. Jadinya keinginan untuk pulang diurungkan dulu. Tapi ya tidak masalah sih, toh di sini juga ramai yang tidak pulkam. Lagipula mungkin tahun depan lagi sudah tidak di sini. Just enjoy aja 😀

Well, pengen nulis sesuatu deh hari ini. Tulisan ini terinspirasi dari beberapa permasalahan yang beberapa hari ini terjadi. Aku pengen ngasi analogi sederhana. *ehem.
Para pembaca pasti tau ya apa itu 'api'? Iya, 'A.P.I'. Hanya terdiri dari tiga huruf saja kalau dilihat dari segi tulisan tapi jangan melihat dari sisi sains, entar panjang lebar deh penjelasannya hehe.

Nah, seperti yang kita tau, api itu ada yang nyalanya kecil dan ada yang besar. Saat api menyala kecil, tentu ia akan sangat bermanfaat. Contohnya sederhana saja, api yang kecil dapat membantu ibu kita memasak di dapur, api yang kecil dapat membantu ayah yang ingin menyalakan rokok, api yang kecil juga dapat digunakan sebagai penghangat bagi teman-teman kita yang tinggal di daerah musim dingin, api yang kecil juga berguna sebagai penerang di malam hari bagi teman-teman yang hobi camping, dan masih banyak lainnya manfaat nyala api yang kecil ini. Namun, hati-hati kalau nyala apinya sudah besar. Kenapa? Lihat saja, api yang menyala besar dapat menyebabkan kebakaran dan merugikan masyarakat hanya dalam waktu sekejap saja. Eits, tapi tungggu dulu. Api yang nyalanya besar tentu tidak serta merta hadir begitu saja. Pasti ada penyebabnya kan? Misalnya, rumah yang terbakar biasanya diakibatkan oleh adanya arus pendek atau seringkali kita melihat Ayah membakar sampah dengan nyala api yang kecil kemudian ditambahi dengan minyak lampu atau bensin. Sehingga nyala api langsung membesar.

Cerita di atas dapat kita analogikan ke dalam kehidupan pergaulan sehari-hari. Gimana sih maksudnya? Gini deh, anggaplah kita berperan sebagai 'api'. Pasti kalian pernah diajak dalam hal-hal kebaikan oleh teman-teman sekitar kalian kan? Bagaimana respon kalian? Tentu kalian akan dengan baik menanggapi ajakan yang baik. Selanjutnya, kalian akan melakukan hal baik tersebut. Teman yang mengajak kebaikan inilah yang kita anggap mereka sebagai penyala api. Meskipun nyala api kecil namun ia bisa bermanfaat banyak. kemudian bagaimana sih yang bisa dianggap api menyala besar? Sederhana saja, kita sudah tau si A tidak suka makan ikan. Tapi kita malah menawarinya ikan, mungkin di awal ia maasih dengan baik menanggapinya. Namun kita terus-menerus menawari si A untuk memakan ikan tersebut. Sampai akhirnya si A menjadi jengkel dan marah. Bahkan lebih parahnya lagi mungkin ia membanting piring yang berisikan ikan tersebut. Menurut para pembaca, kita harus marah juga dengan sikap si A atau tidak?

Menurut pandangan saya, si A tidak bersalah. Loh? Kok bisa? Bukannya dia sudah membanting piring yang berisikan ikan sambil marah-marah? Yuk, kita main detektif-detektifan. Hehe. Kita selidiki apa penyebab awal si A bisa bertingkah seperti itu. Di awal si A sudah memberi tahu kita bahwa ia tidak suka makan ikan. Kali pertama, si A sudah memaafkan kita dan tidak ambil pusing. Harapan si A tentu esok ketika mungkin makan bersama lagi, kita tidak menawarkan ikan. Ternyata, kita malah masih saja menawarkan ikan. Begitu sampai beberapa kali. A masih saja sabar merespon kita. Sehingga tiba lah suatu hari si A tidak tahan lagi. Ia pun membanting piring yang berisikan ikan sambil marah-marah. 

Kembali lagi ke analogi tadi, si A tidak akan tersulut amarah kalau kita tidak menawari A untuk makan ikan. Tapi kita masih saja terus-menerus menawarinya. Kita layaknya seperti bensin yang dituangkan ke api, si A. Wajar saja, si A menjadi marah besar bukan? Mungkin sebagian kita hanya melihat sisi sikap A begitu buruk karena ia membanting piring sambil marah-marah namun kita lupa melakukan flashback dan mencari tahu alasan mengapa si A bersikap begitu. 

Sangat sederhana. Kebanyakan kita melihat apa yang ada di depan kita tanpa melihat apa alasan di baliknya. Kebanyakan kita sudah tau apa yang membuat seseorang menjadi marah, namun masih saja memancing keadaan sehingga suasana menjadi panas. Mari kita sama-sama belajar bagaimana menghargai orang lain, memahami apa yang disukai dan tidak disukai oleh lawan bicara kita, tidak mengungkit hal-hal yang membuat suasana menjadi panas dan keruh, menyadari dan mencari tahu mengapa seseorang bersikap tidak baik. Bagaimana posisinya jika kita tanpa sadar yang menjadi penyulut api masalah? baiklah, berikut ini beberapa tips yang didapat dari hasil googling.

1. Say sorry atau meminta maaf. Hal ini adalah langkah pertama yang harus dilakukan. Tapi maaf saja tidak cukup loh. Kalau kata Jerry Yan yang berperan sebagai Thao Ming Tse di Meteor Garden, "Kalau minta maaf berguna, untuk apa ada polisi?" Benar juga yaaa, kalau emang minta maaf berguna, yang udah mencuri, menculik, korupsi, ya mereka minta maaf aja, udah selesai toh. ga perlu disidang atau sampe dipenjara. Berarti, itu tandanya maaf saja belum cukup loh.
2. Next, admit your mistakes atau mengakui kesalahan yang sudah diperbuat. Ini penting loh, jangan sampe udah minta maaf tapi malah gatau ngucapin maaf buat apa. Bisa gawat, besok mungkin malah mengulang kesalahan yang sama dan itu-itu terus. Cape' deh! Saat mengakui kesalahan jangan sampai malah merasa ga bersalah. What the hell!😈 Nyebelin banget ga sih orang yang begituan, udah tau salah eh malah berkilah. Lebih parah lagi, malah menyalahkan kita atau orang lain yang berbuat salah. Hmm.. *mikirberat
3. Tanyakan apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kesalahan yang sudah diperbuat. Ini juga ga kalah penting loh. Balik lagi ke poin 1, maaf aja ga cukup. Coba tanyakan apa yang harus kita lakukan agar kita dimaafkan. Mungkin dia pengen ditraktir bakso Boedjangan. Wkwkwk. Suasana pasti bisa jadi cair deh.. Pada tahap ini, kebanyakan orang yang telah kita sakiti akan mengatakan "Iya, ke depannya, kamu jangan mengulangi kesalahan yang sama ya", atau "Iya, tobat ya jangan ngulang hal yang sama", atau "iya, aku maafin. jangan sampe terulang untuk yang ke dua atau ke tiga kalinya ya, plus traktir aku nonton dan makan ya. ehhehe". Kalau sudah begini pasti jadi akur.
4. Jangan malu mengakui kesalahan. Poin ini diinget ya, jangan malu mengakui kesalahan dan sebagai tambahan membujuk rayu orang yang sudah kita sakiti hatinya. Karena kuncinya, orang yang sakit hati kalau udah dirayu dengan manis pake gulali pasti langsung luluh. Iya, dia cuma mau yang berbuat salah itu ngaku. So simple. Tapi kebanyakan kita merajakan 'ego'. Beuh! kebanyakan sih cowok kali ya, mungkin karena udah nyadar kalau mereka punya hak dan derajat yang lebih tinggi dari cewek. Tapi, kalau namanya udah salah. Ya, emang ada yang salah gitu kalau cowok mengakui kesalahannya dan membujuk rayu pada orang yang disakitinya (note: dalam arti agar suasana menjadi baik, bukan merayu gombal ya. Lol) ?
5. Berjanji tidak mengulangi kesalahan. Setelah meminta maaf jangan lupa pula untuk berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Percuma mengucapkan "maaf" tapi malah eh besoknya melakukan lagi kesalahan yang sama pula. Duh, duh.. jadi ucapan maaf kemarin maknanya apa? Kalau begitu enak banget dong ya, habis ucapin maaf, eh berbuat lagi kesalahan yang sama. Begitu aja terus sampai kiamar. Weleh weleh.. Jadi baiknya itu adalah setelah meminta maaf berjanjilah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. 

Noted: Jangan menyulut api, bahaya loh! Semoga bermanfaat.

Sabtu, 22 Juli 2017

Tiket Menuju Jannah-Nya

Menikah bukanlah sebuah perlombaan, tapi menikah adalah perkara menunaikan setengah agama.
Menikah bukanlah siapa yang menang dan siapa yang kalah, tapi menikah adalah perkara siapkah berbagi suka dan duka dengan pasangan hidupmu nanti.
Menikah bukanlah tentang ingin mengumbar foto mesra di sosmed karena sudah halal, tapi menikah adalah awal membangun sebuah rumah tangga yang harmonis tanpa perlu diumbar.
Menikah bukanlah permainan yang hanya 1 atau 2 jam saja dimainkan, tapi menikah adalah bagaimana engkau menghabiskan seluruh sisa hidupmu hanya dengan bersama satu orang saja, berbagi dengan anak-anakmu, dan seumur hidup bahkan hingga surga-Nya.

Hasil gambar untuk marriage is not a game

Banyak juga orang yang khawatir saat melihat orang lain menikah. Saat undangan datang ke tangan kita, tidak jarang hati kita berdesir merasa ingin pula menikah. Eits, tapi tunggu dulu! Apa iya kita benar-benar ingin menikah? Coba kembali kita tanya, kenapa kita ingin menikah? Jika orang bilang, ngapain banyak pertimbangan untuk menikah, toh rezeki sudah Allah yang mengatur. Benar sekali! Saya setuju kok rezeki itu Allah yang atur. Tapi tunggu dulu. Apa iya rezeki datang begitu saja tanpa ada ikhtiar dan doa? Apa iya rezeki akan datang jika nanti ketika menikah justru pasangan kita malah enggan berikhtiar untuk mencari rezeki bersama? Tentu tidak. Tidak mungkin yang namanya rezeki nomplok tanpa adanya ikhtiar dan doa yang kuat.

Hasil gambar untuk marriage

Aku di usia yang menuju 25, yang katanya usia ideal untuk menikah. Aku kurang tau kenapa disebutnya ideal. Sejujurnya, aku sendiri memang ingin menikah. Banyak teman-teman yang seangkatanku sudah menikah. Tapi aku berpikir kembali dan ingin meluruskan niat lagi. Apa iya aku sudah siap menikah? Apa iya ilmu ku sudah cukup nanti ketika menikah? Apakah ilmu ku sudah cukup untuk mendidik anak-anakku nanti? Bukankah madrasah pertama seorang anak adalah ibu? Aku sangat ingin anak-anakku nanti menjadi anak yang soleh, cerdas dan berguna bagi agama serta orang di sekitarnya. Begitu ingin menjadi ibu yang nanti menjadi teladan bagi anak-anaknya. Sudahkah aku menjadi orang yang tidak egois, ingin menang sendri, dan mendengarkan orang lain? Bukankah ketika menikah aku akan hidup dengan orang lain? Biasanya aku sesuka hati keluar rumah, membeli ini dan itu semauku, yahh.. sesukanya.. Tapi bukankah menikah aku harus siap untuk berbagi dengan suamiku? Keluar rumah juga harus dengan seiizinnya, keuangan harus dikontrol karena pasti banyak kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan anak, tidak boleh egois karena kehidupan menikah adalah berbagi dan membangun sebuah rumah tangga (read: organisasi kecil menuju Jannah). Tentu jika ingin menjadi rumah tangga yang maju, visi dan misi anggotanya haruslah disamakan dulu, program kerjanya apa saja, goals yang ingin dicapai apa, dan tentu ada bagian keuangan. Banyak lagi hal yang harus dihandle bersama, bukan malah sendiri-sendiri.

Hasil gambar untuk marriage


Bagiku, menikah bukan berarti aku berhenti menjadi seseorang yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Aku tetap ingin menjadi sosok yang bermanfaat bagi keluarga kecilku nanti dan orang di sekitarku. Aku ingin menikah bukanlah menjadi penghalang untukku dalam beribadah kepada Allah, tidak sedikit suami yang melarang istri atau kesal melihat istri yang ingin beribadah. Aku ingin menikah bukanlah menjadi penghambat karyaku di masyarakat. Tidak sedikit suami yang melarang istri untuk berkarya dan bermanfaat bagi orang sekitarnya. Tapi tunggu dulu, bisa jadi wanita kebablasan di luar. Nah ini dia, yang ingin pula aku tidak seimbangkan, aku ingin 70% bisa mengabdi dan memberikan perhatian penuh bagi keluarga kecilku dan 30% berkarya dan bermanfaat bagi orang di sekitarku. Pastilah tidak mudah. TENTU! kenapa? Tiket menuju syurga sangat banyak loh dalam berumah tangga atau setelah menikah. Oleh karena itu, dalam menjalani rumah tangga pasti banyak cobaan-cobaan hidup yang akan dihadirkan Allah, membutuhkan kesabaran yang luar biasa, dan menguji ketahanan serta kesetiaan bagi kedua pasangan. Tiket ke Jannah-Nya Allah itu mahal, pasti butuh energi besar untuk mendapatkannya.


Ah,, memikirkan hal seperti ini, membuatku bahagia. Tapi aku harus segera bergegas memperbaiki akhlak dan mencukupkan bekal dan ilmu untuk menuju pintu pengambilan tiket ke Jannah Allah. Semoga aku dan para pembaca segera menuju pintu pengambilan tiket dan mendapatkan tiket menuju Jannah Allah yaaa...

Hasil gambar untuk marriage is not a game

Semoga bermanfaat.