RSS

Rabu, 13 Maret 2019

Perjalananku Untuk Mengabdi Bagi Indonesia



Sebelum berbagi pengalaman terkait tes CPNS Kemenag 2018, sejenak izinkan diri ini memperkenalkan diri terlebih dahulu. Saya bernama Diniya asal Aceh baru saja menikah dengan lelaki berdarah Jawa dan lulus menyandang gelar Magister Pendidikan jurusan IPA di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Studi yang diselesaikan selama 2 tahun itu didanai oleh beasiswa LPDP. Singkatnya, wisuda kelulusan diselenggarakan pada tanggal 10 Oktober
2018. Pada saat itu bertepatan dengan pendaftaran administrasi CPNS. Awalnya ingin fokus mengurus anak karena kondisinya saat ini saya sedang hamil anak pertama. Namun, suami memberikan restu dan dukungan penuh agar saya ikut CPNS tahun ini. Suami,   Lukman Supriadi, S.S, M.Hum, merupakan lulusan CPNS Kemenkumham tahun 2017 lalu.
Alasan suami yang notabene merupakan alumni penerima beasiswa LPDP mengatakan bahwa negara telah memberikan beasiswa selama dua tahun terakhir, maka bukankah lebih baik jika memberikan sesuatu seperti ilmu yang telah dipelajari selama studi sebagai bentuk pengabdian untuk negara ini. Selain itu, menebarkan ilmu yang bermanfaat juga merupakan salah satu dari 3 amalan jariyah. Selaras dengan hadis Rasulullah saw “Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak shalih yang selalu didoakan orang tuanya.” (HR. Muslim, no. 1631)
Pada tanggal 12 Oktober 2018 akun dan form pendaftaran online telah diselesaikan dengan baik dan rapi. Pada tanggal 15 Oktober 2018 berkas dikirimkan ke kampus tujuan yaitu UIN Suska Riau yang terletak di Pekanbaru Kota. Pada hari pengiriman berkas, ternyata pihak ekspedisi Pos Indonesia tidak mau menerima pengiriman berkas CPNS. Hal ini dikarenakan waktu penerimaan berkas hanya tersisa 2 hari. Pihak ekspedisi takut pengiriman tidak sampai ke tujuan dan akan berakibat gagalnya para pendaftar CPNS. Saya memutar otak untuk mencari cara agar dokumen bisa dikirim. Tiba-tiba terlintas di pikiran untuk mengirmkan via agen travel. Sambil mengucapkan Bismillah dan berpikir bahwa rejeki tak akan tertukar, saya memberikan dokumen pada agen travel untuk dikirim ke kampus UIN. Alhamdulillah, dokumen tiba dengan selamat meski kampus akan tutup 5 menit lagi.
Sebulan pun berlalu dan peserta yang lolos tahap selanjutnya telah diumumkan. Alhamdulillah saya lolos ke tahap SKD bersama 13 peserta lainnya. Bukanlah hal yang mudah selama perjalanan dari rumah menuju ke lokasi tes SKD. Pada saat itu saya sedang hamil anak pertama dan usia kandungan masih sangat belia yaitu 3 bulan. Pada hari Sabtu, saya dan suami yang bertempat tinggal di kabupaten Rokan Hilir  berangkat menuju Pekanbaru Kota, tempat pelaksanaan tes SKD, yang jika ditempuh perjalanan darat akan memakan waktu selama 7 jam. Adapun kondisi jalan aspal dari Ujung Tanjung ke Batu Enam rusak parah, jalan berlubang- lubang sehingga ketika di dalam mobil travel penuh guncangan. Guncangan yang bisa membahayakan kondisi janin saya. Ditambah lagi adanya tiga titik lokasi perbaikan jalan yang akhirnya akan menambah waktu perjalanan. Kondisi perjalanan seperti itu membuat saya muntah hebat di dalam mobil travel. Syukurlah pada saat itu suami menemani saya.
Tes SKD dilaksanakan pada hari Senin dan suami saya tidak dapat menemani karena harus harus kembali masuk kerja. Suami belum bisa mengambil cuti karena notabenenya suami masih berstatus CPNS. Pada hari Senin saya berangkat sendiri dengan menggunakan jasa Gojek sambil membawa tas jinjing berisikan baju. Ya, karena saya sudah tiba di hari Sabtu untuk berjaga-jaga agar stamina cukup fit pada hari Senin ketika tes. Tiba di Hotel Labersa, banyak orang melihat ke arah saya karena saya menjinjing tas seperti orang mau kabur dari rumah padahal hanya ikut tes CPNS. Pukul 10.00 wib, tes CAT SKD dimulai. Sebelum tes, saya menyempatkan diri untuk makan terlebih dahulu. Tentu hal itu saya lakukan karena saya harus tetap memperhatikan kondisi dan asupan bagi janin  saya. Saya pun sangat bersyukur karena selama pendaftaran ulang hingga menuju ruang tes panitia memberikan ‘hak khusus’ bagi  ibu  hamil.  Setelah  1  jam  30  menit,  hasil  tes  langsung  tertera  di  layar  komputer.


Alhamdulillah, saya satu-satunya yang lulus passing grade dari 13 pesaing di formasi umum
Pendidikan IPA.
Satu bulan berlalu, saya satu-satunya peserta yang masuk ke tahap SKB di formasi umum Pendidikan IPA. Sabtu malam saya dan suami tiba di Pekanbaru Kota dan Sabtu sore rasanya seperti disambar petir, saya mendapat kabar buruk dari keluarga di Aceh yaitu Ayah dan Ibu kandung saya mengalami kecelakaan. Ayah mengalami luka-luka berat dan adanya penggumpalan darah di bagian otak belakang sehingga Ayah harus segera menjalankan operasi pada hari Minggu pagi. Betapa sedihnya hati ini, saya tidak bisa pulang karena Senin saya harus mengikuti tes SKB. Jujur saja, saya tidak lagi belajar dan tidka mempersiapkan diri secara maksimal untuk tes. Pikiran saya hanya tertuju pada Ayah dan keluarga yang di Aceh.
Pada hari Rabu selesai tes SKB, saya menyiapkan segala keperluan untuk pulang dan suami sedang dalam perjalanan dari Rokan Hilir ke Kota Pekanbaru. Kamis pagi kami berangkat dari Bandara Sultan Syarif Kasim II menuju Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh. Ayah telah menyelesaikan operasi sejak hari Minggu namun hingga hari Kamis saya dan suami tiba, ayah masih dalam keadaan koma dan tidak sadar di ruang ICCU Rumah Sakit Zainal Abidin, Banda Aceh. Kondisi Ayah sangatlah parah, mata sebelah kanan rusak sedangkan mata kiri belum dapat dipastikan apakah masih normal atau tidak. Luka-luka di bagian wajah dan kiri-kanan tangan.
“Assalamua’alaykum ayahku tersayang. Kami pulang menjenguk ayah dan ingin mengabarkan bahwasanya hanya saya yang lulus di tahap SKB dan insya Allah impian Ayah yaitu ingin saya menjadi Dosen PNS akan segera terwujud. Ayah cepat sadar, Ayah lihat adek sukses dulu ya, Ayah. Adek sangat ingin membanggakan dan membahagiakan ayah. Ingin membalas semua kasih sayang dan apa-apa yang telah ayah berikan.”. Terlihat di sudut mata ayah, ada air mata yang mengalir. Saya dan suami pun membacakan surah yasin. Berselang selama seminggu, Allah memanggil ayah saya ke sisi-Nya di malam Jum’at tepat 27 Desember
2018. Perasaan yang tak dapat saya gambarkan di penghujung tahun 2018, rasa sedih yang luar biasa mendalam karena Ayah telah tiada namun bahagia karena saya lulus menjadi CPNS Dosen jurusan Pendidikan IPA di Kampus UIN SUSKA Riau, Pekanbaru seperti impian Ayah saya.
Saya persembahkan pencapaian ini khusus untuk Ayah tercinta. Terima kasih saya ucapkan atas segala kasih sayang, cinta dan pengorbananmu, Ayah. Jika tanpamu, maka saya tak dapat menjadi sosok seperti sekarang ini. Maafkan saya yang belum sempat membalas semua yang telah engkau berikan pada saya. Kuucapkan pula rasa syukur yang tanpa henti pada Allah swt atas apa yang telah Dia berikan, tentu Allah adalah Sebaik-baiknya Pembuat Rencana kehidupan ini. Saya selipkan do’a dan Alfatihah untuk Ayahanda tercinta, almarhum Drs. Suharlan Djakfar. Semoga segala amal ibadah Ayah diterima oleh Allah swt. Tak lupa pula rasa terima kasih saya ucapkan atas ridho, do’a, semangat dan dukungan dari suamiku tercinta dan keluarga.


“Karena sesungguhnya bersama setiap kesulitan ada kemudahan” (Q.S Al-Insyirah, ayat 5)

Newbie Traveller 38 - Bermalam di Hotel CItismart Bandara Pekanbaru

Hai hai..
Kembali lagi di blog hore horenya akuh.. Kemaren udah pada tau yah kalau aku lagi di Pekanbaru. Nah, sekarang aku mau berbagi pengalaman nih buat temen-temen yang mau ke Pekanbaru. Well, langsung aja yak..

Jumat itu, 29 Juni 2018 aku berangkat dari Medan ke Pekanbaru pukul 12.50 wib. Tiba di Pekanbaru sekitar pukul 14.30. Berhubung hari itu aku bawa bagasi jadinya nunggu bagasi deh. Karena ini adalah kali pertama aku ke Pekanbaru, eh engga ding yang kedua kali. Aku tetep aja masih keliatan newbie, polos gitu. Nah, katanya suami aku, dia udah pesan kamar di Hotel Citismart Bandara yang jaraknya emang deket banget ama bandara. Lah, sama aja toh mau dijelasin kayak gimana juga aku kan gatau. Saran dari suami aku, naik taksi aja. Abisnya takut gatau turun dimana. ini dia nih. Biasa dimana-mana kesempatan abg mamang taksi buat nipuin costumer. katany aku langsung naik aja, eh pas naik taksi rupany gak pake argo. Bah, dia pasang harga 40ribu hanya untuk jarak 750 meter. Ga sampe satu 1 kilometer. Tau gitu, aku jalan kaki aja. Hahahha..

Aku pun nelpon sang suami dan sambil ngomong dengan nada kesal, "apanya juga mas nyuruh naik taksi, yang ada kena tipu. sebegini deketnya, mahal banget". Trus pas nyampe, abang taksinya bilang, "bayar seberapa yang Ibu sanggup aja buk". Baaaahhhh.. baru tau dia suami aku orang Pekanbaru, dikira bisa ditipunya aku ini. Huft. Zebeeelll.... jadi mendingan sarannya aku, naik damri saja, nanti turun di depan Gelanggang Remaja, cuma bayar 4ribu. Nah setelah itu, baru deh pesan grab car. Bakalan lebih murah da pastinya ga sakit hati gara-gara berantem sama supir taksinya.

Hasil gambar untuk citismart bandara pekanbaru

Sumber: Traveloka.com

Well, aku sudah tiba di Citismart Bandara. Pelayanannya bagus, begitu ngeliat ada pelanggan yang masuk, mereka langsung negbantuin angkat barang-barangnya kita. Hotelnya juga bagus, standar sih. yang jelas lobby nya cozy banget. Tempat sarapan paginya juga cozy banget. menunya juga enak. Harganya kalau di traveloka mulai dari 185ribu rupiah. Kalau lagi ada diskon mungkin bisa lebih murah, atau pake Paylater.

Ohya, kalau mau murah transportasinya ya pake bus metro pekanbaru, atau biasanya kalau orang Pekanbaru sini bilangnya 'busway'. Kalau damri itu bis kota edisi lama, yang udah jeleeek banget bisnya. Nah kalau naik busway ini mau kemana aja harganya ya sama, cuma 4ribu aja. Mau transit beberapa kali pun tetep aja harganya 4ribu, tapi inget kalau kamu transit kamu harus nunjukin tiketnya, jadi tiketnya ya jangan ilang. Kalau dari Bandara SSK II, kamu bisa naik busway nomor 01, nah nanti turun aja di halte depan Gelanggang Olahraga Remaja. Nah dari situ kamu bisa pesan grab car atau gocar untuk melanjutkan perjalanan ke Citismart Hotel Bandara, bayarnya cm 10-15ribuan kok, apalagi kalau ada promo Gocar, wah jadi lebih murah, palingan totalnya smua ditambah ongkos busway ya cuma 20ribuan. Cuma ya itu, kadang busway di bandara nunggunya rada lama.

Sekian dulu yaaa.. semoga bermanfaat.

Senin, 30 Juli 2018

Newbie Traveller 37 - Berkunjung ke Pekanbaru

Ini kali kedua saya ke Kota Bertuah, Pekanbaru. Kali pertama beberapa bulan lalu sebelum bertunangan dg si dia, sang suami. Itu pun cuma transit saja. Ternyata memang berjodoh, hingga bisa kembali menginjakkan kaki di kota ini bersama orang yg spesial yaitu suamiku mas Lukman Supriadi ❤
Gambar 1.
Saya sempat kebingungan ketika tiba di bandara Sultan Syarif Kasim II Int Airport, betapa tidak, hal itu dikarenakan bahasa petugas setempat yang kurang bisa saya mengerti. Petugasnya bilang, "satu, duwe, tige. Terime kasih". Ah, ternyata bahasa Melayu. Menurutku, mereka sangat cepat dalam bertutur kata dan aku berkali-kali, "Maaf kak,bisa diulangi lagi?"




Gambar 2.
Keluar dari bandara, ternyata bangunannya masih ala-ala melayu dan banyak tulisan arab melayu. Jadi ingat pelajaran muatan lokal ketika SD dan SMP, arab melayu. Jadinya, aku ga keliatan bodo-bodo amat.



Gambar 3.
Pekanbaru terkenal dengan jumlah tugunya yang cukup banyak. Salah satunya ini, Tugu Selamat Datang yang lokasinya tidak jauh dr bandara.




Gambar 4.
Perpustakaan Wilayah Provinsi Riau yang menurutku guedeeee banget dibandingkan dengan perpustakaan wilayah propinsi yang pernah aku lihat di Aceh. Pengen masuk, tapi hari itu libur.



Gambar 5.
Tugu Zapin namanya, berada dekat dengan perpustakaan wilayah. Katanya sih ini salah satu ikon Kota Pekanbaru.
Tugu Zapin ini juga berada tepat berada di titik 0 (nol) kilometer Pekanbaru. Sebelumnya di tempat ini berdiri tugu Pesawat. Tugu Zapin ini terbuat dari perak dan berharga 4,5 milyar.



Gambar 6.
Kala itu dengan polosnya aku bertanya pada suamiku, "Sayang, siapa sih Raja Haji Ali itu? Kok ini tempatnya luas banget?"
Suamiku tersenyum manis sekali kepadaku dan mulai menjelaskan, "Istriku sayang, ini adalah Bandar Seni Raja Haji Ali atau dikenal juga dengan Bandar Serai. Ini adalah tempat diselenggarakannya MTQ Nasional yang pertama kali dan yang ke 17. Di dalamnya ada Anjungan Idrus Tintin yang namanya diambil dr nama salah satu seniman Riau yang lahir di Kabupaten Indragiri Hulu. Anjungan tersebut adalah tempat diadakannya pertunjukan budaya dan seni, tepatnya tempat berkumpul para seniman Riau dan nasional. Seperti pada tahun 2007, tempat ini menjadi tempat diselenggarakannya Festival Film Indonesia (FFI)".




Wah, ternyata banyak sekali sejarah di Kota Pekanbaru yang belum aku ketahui. Terima kasih suamiku @lukman_supriadi atas jalan-jalan singkatnya di Kota Pekanbaru namun penuh wawasan ❤ @ Pekanbaru

Newbie Traveller 36 - Saung Pengkolan 2

Ada banyak tempat wisata yang dapat dikunjungi oleh para wisatawan di Bandung. Pada postingan sebelumnya yang udah pernah diunggah, ada beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi seperti farm house, floating market, tangkuban perahu, dan lainnya. Tempat wisatanya memang dikonsep sedemikian rupa. Meski di Bandung ini banyak banget tempat wisatanya, tapi tetep aja ga pernah kehabisan ide untuk menyulapnya jadi tempat yang ketjeeehh dan asik. Cafe dan restoran udah berjamur banget di Bandung ini alias buaanyyaaakk banget. Salah satunya adalah tempat makan yang namanya Saung Pengkolan. 

Pada tulisan kali ini, aku pengen sedikit bagi pengalaman. Mana tau temen-temen yang lagi liburan di Bandung bisa mampir ke sini. Lembang dan Dago adalah titik lokasi berkumpulnya tempat wisata dan cafe yang keren buat ditongkrongin. Hmmm... Saung Pengkolan? Ini apa ya? Saung Pengkolan diambil dari bahasa Sunda. Kata 'saung' kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V, kata 'saung' memiliki arti bangunan kecil seperti rumah di sawah atau di kebun dan kata 'pengkolan' berarti tikungan atau keluk (jalan dan sebagainya). Jika dibaca dari artinya aja pasti para pembaca udah tau ya, kalau itu adalah rumah yang ada di tikungan jalan. Yaps, benar sekali! Saung Pengkolan yang aku sambangi adalah rumah makan yang ada di pengkolan jalan. 

Saung Pengkolan ini ada 3 tempat, yang Saung Pengkolan 1 ada di deket Tangkuban Perahu, Saung Pengkolan 2 berada di jalan raya lembang, dan yang Saung Pengkolan 3 deketnya Kampung Gajah arah ke dusun bambu. Menurut aku, lokasinya strategis, ada pemandangan yang indah banget di sekelilingnya, kayak hutan-hutan hijau gitu.. Mestinya di daerah Saree, Jalan Medan-Banda Aceh bisa deh dibuat rumah makan yang kayak beginian.

Kali ini aku sama adek-adekku pergi ke Saung Pengkolan 2, yang lokasinya berada di Jalan Raya Lembang. Kalau dari kampus UPI atau Mesjid Darut Tauhidnya Aa Gym, kamu bisa naik Angkot warna putih yang jurusan St. Hall - Lembang. Kamu cukup bayar ongkos angkot 5ribu rupiah saja. Kalau kamu perginya bareng-bareng mendingan naik grab saja, sekitar 15rb hingga 25ribu, bergantung kemacetan sih. Kalau pakai promo perjalanan bisa lebih murah lagi. Nah, kalau ga macet 15-25 menit udah sampe, tapi kalau macet parah bisa sejam atau bahkan dua jam perjalanan menuju lokasi tersebut.



Pemandangannya asri banget


Ada 3 lantai tempat makannya dan di setiap spot kita bisa foto-foto


 Rumah makan Saung Pengkolan 2 ini makanannya juga enak-enak banget loh.. Hmm.. Yum yum.. Harganya memang lumayan mahal start from 10-80ribuan. Air mineral aja 10ribuan. Hehe.. Tapi porsinya emang gede sih, mengenyangkan banget.


Menunya jus terong belanda mixed, nasi plus sayur asem dan ayam
Eh, ada lotek juga dan ada tahu

Kalau di Aceh, lotek itu semacam pecel. nah bedanya di sini kalau bilang pecel itu pecel lele, alias lele penyet pake nasi. kalau di Aceh mah kayak lele penyet, ayam penyet.

ohya, jangan takut ya.. di sini ada musolla dan bahkan ada hotel juga. Jadi kalau mau bermalam bisa juga loh. Segitu aja deh, Semoga Bermanfaat ya...






Sabtu, 21 Juli 2018

Perlukah Memarahi Siswa?

Perlukah seorang guru memarahi siswanya?
Bahkan mungkin orang tuanya saja tidak pernah memarahinya.
Tapi ia tetap berangkat ke sekolah dan mengikuti pembelajaran di kelas meski mungkin hatinya sedih karena Anda memarahinya.
Perlukah seorang guru memarahi siswanya?
Ingat, meski guru adalah orang tua kedua siswa, tapi Anda bukanlah orang tua sedarahnya.
Tapi ia tetap berangkat ke sekolah dan mendengarkan perkataan Anda selama pembelajaran di kelas meski mungkin ia sedang tidak konsentrasi.
Perlukah seorang guru memarahi siswanya?
Bisa saja, siswa itu memiliki masalah di rumahnya,
misalnya saja, orang tuanya baru saja bertengkar di depan matanya, atau
ia melihat Ayah/Ibunya selingkuh dengan perempuan/laki-laki lain, atau
ia melihat Ayah/Ibunya membunuh, mencuri, atau hal buruk lainnya.
Tapi ia tetap berangkat ke sekolah meski mungkin hatinya hancur.
Perlukah seorang guru memarahi siswanya?
Padahal mungkin ia datang ke sekolah dengan perut lapar karena di rumahnya tak ada makanan,
ia tetap masuk ke kelas dan mengikuti pembelajaran.

Anda tau kenapa ia tetap bersekolah?
Karena orang tuanya dan Anda, gurunya selalu berkata,
"Dengan belajar di sekolah maka kamu akan menjadi orang pintar, menjadi orang sukses, kamu dapat menggapai cita-citamu kelask, kamu tidak akan ditipu," dan masih banyak lagi iming-iming lainnya.
Lantas jika demikian, patutkah sebagai seorang guru malah menghancurkan impian dan cita-citanya dengan kata-kata kasar Anda?

Mereka bukan anak kandungmu,
mereka hanyalah titipan orang tuanya padamu,
jika memang orang tuanya tidak mampu mengajarkan kebaikan di rumah,
maka Anda-lah sebagai gurunya yang merupakan harapannya anak, 
sandaran mereka jika orang tuanya sibuk,
Anda-lah sebagai gurunya yang akan memberikan petuah dan nasihat untuk menyejukkan hatinya.
Anda-lah sebagai gurunya tempat ia bercerita keluh kesahnya.

Bisa jadi Anda memarahi siswa hari ini,
mungkin 10 tahun ke depan, bisa jadi dialah yang paling pertama yang akan mengulurkan tangannya untuk Anda karena ia mengingat Anda pernah menjadi gurunya.
Bisa jadi Anda memarahi siswa hari ini,
mungkin 10 tahun ke depan, dialah yang akan memperdulikan Anda karena ia mengingat bahwa Anda pernah mengajarinya dulu.
Tidak ada yang pernah mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan.

Selain mengajarkan ilmu pengetahuan, seorang guru juga memberikan contoh yang baik kepada anak, seorang guru yang memiliki budi pekerti baik, bukan malah menghancurkan.
Semoga kita menjadi guru yang baik bagi siswa kita.


Minggu, 08 Juli 2018

My Happiest Day Ever!

Alohaaaa...
Udah berapa bulan ya ga nulis di blog? Hampir 3 bulan sepertinya. LoL
Iya nih, akibat dirundung musibah yang bertubi-tubi. Tapi, Alhamdulillah sekarang semuanya sudah kembali lancar. Terima kasih ya Allah. Aku yakin deh, ga selamanya hujan terus turun, pasti akan tiba masanya reda dan berhenti yang kemudian disambut pelangi. Aw aw, co cwiiitt.. 

Hari ini pengen nulis tentang, My Happiest Day Ever!
Apaan sih? Akhirnya aku nikah, muah muah. Alhamdulillah aku sudah dipertemukan dengan jodohku oleh Sang Maha Pengatur Jodoh.  Aku menikah dengan seorang lelaki Jawa yang bernama Lukman Supriadi pada tanggal 24 Juni 2018, tepatnya hari Ahad dan hari ke-10 Syawal 1439 H yang katanya sih hari baik menikah itu di bulan Syawal di tanggal 1, 10, dan 20. Ada hadisnya sih, tapi aku lupa, nanti deh dicrosscheck lagi. Inget ga sama tulisan aku di blog ini tentang Stranger. Ya itu, ternyata dia menjadi suamiku sekarang. Hihihihi.

Ternyata ada banyak rintangan ya ketika akan menikah. Nasihat dari kakak ku agar banyak-banyak membaca doa agar diberi kemudahan. Suamiku dulu sebelum menikah juga sempat memberikan nasehat kalau-kalau nanti ada kesalahpahaman hendaknya salah satunya diam dan jangan menambah masalah. Selain itu juga perbanyak sabar, jika memang tidak ada hal penting yang dibicarakan hendaknya jangan berkomunikasi. Iya, ditakutkan hanya karena masalah sepele malahan jadi masalah besar akibat setan terus saja mengusik kita. Kenapa sih setan mengusik orang yang mau menikah. Ya jelas! Menikah adalah ibadah besar yang mana semuanya menjadi pahala. Tersenyum pada suami/istri jadi pahala, membuatkan secangkir teh saja sudah jadi pahala, berpegangan tangan saja jadi pahala, mencium kening istri jadi pahala, mencium tangan suami sebelum ia berangkat bekerja juga jadi ladang amal yang berlimpah, mencari nafkah dengan niat untuk mencukupkan kebutuhan istri menjadi pahal. Bayangkan kerja dari jam 7.30 sampai jam 17.00 setiap detiknya menjadi pahala. Waaahhhhh... pantesan aja setan makin gencar buat menggoda para calon pengantin agar tidak jadi menikah. Dasar ya si setan itu.

Setelah menikah, setan juga teruuuussss aja menggoda. Misalnya, hal sepele bisa jadi masalah besar. Pesan orang tuaku adalah agar selalu taat pada suami. Apa-apa ditanyakan pada suami, mau keluar jangan lupa minta ijin sama suami. Nah, itu katanya ayah. Kalau katanya mama, jangan pernah membantah kata suami selagi itu baik, hilangkan egois dalam diri, kalau salah jangan gengsi atau enggan minta maaf, kalau suami pulang kerja disambut dengan senyuman, rawat diri baik-baik dan cantik ketika di depan suami, jangan pemalas juga. Suami itu paling ga suka istri pemalas. Kalau pesan dari kakakku, jangan pernah melupakan keluarga meski sudah bersuami dan apabila suami ada kesalahan sepele jangan dibesar-besarkan, jika ada masalah besar ya dikecilkan. Wahh.. petuah-petuah yang sangat baik dan aku sangat senang.

Jika ditanya orang, bagaimana perasaannya setelah menikah? Ya Allah, Alhamdulillah yang tak henti rasanya ingin aku ucapkan. Aku mendapatkan suami yang rajin solatnya, baik hatinya, pengertian, perhatian, pekerja keras dan romantis. Suamiku juga orang yang selalu mengingatkanku dalam kebaikan-kebaikan. Aku merasa orang tuaku memang sedih karena anaknya harus pergi jauh karena ikut dengan suami. Tapi di satu sisi, mereka bahagia karena suami yang mendampingiku adalah sosok yang mereka anggap bisa menggantikan tanggung jawab mereka sebagai orang tua dengan baik. Meski ada yang bilang, "Ah, namanya juga pengantin baru, wajar aja lah masih romantis, coba deh udah setahun, udah biasa aja pasti, sering ribut." Astaghfirullah, semoga Allah jauhkan hal-hal yang tidak baik dalam rumah tangga kami. Tapi sebenarnya, ada kok beberapa orang yang setelah menikah malah merasa tidak bahagia, merasa terkurung karena apa-apa harus ijin suami, karena apa-apa harus menuruti kata-kata suami. Bahkan sampai 2 tahun menikah pun masih  merasa ga bahagia. Semoga Allah jauhkan kami dari godaaan syetan yang terkutuk ituhhh! 

Suamiku selalu berpesan agar tidak berlebihan dalam hal apapu, selalu lah kita bersyukur kepada Allah baik dalam hal senang ataupun susah. Jadi teringat ketika kami berdua selesai makan sate padang di Restoran Plaza Pekanbaru. Aku berkata, "Adek kenyang mas." Sontak suamiku berkata, "Dek, ga boleh gitu. Bilangnya Alhamdulillah.. Alhamdulillahilladzi ... ", Aku pun langsung tersipu malu karena lupa membaca do'a usai makan. "Astaghfirullah, iya mas" Aku pun membaca do'a usai makan. Lanjut suamiku berkata, "Baca doa dulu, ingat Allah dulu. Baru deh bilangnya adek kenyang mas. Gitu sayangku ya.." Kalau diingat-ingat, rasanya aku bahagiaaaaaaaaaa sekali, sampai saat ini aku merasa bahagiaaa sekali mendapatkan seorang suami yang hatinya tertaut pada Allah. Alhamdulillah terima kasih ya Allah telah memberikanku suami yang luar biasa. Suamiku yang selalu bekerja keras, terima kasih suamiku. Semoga suamiku selalu sehat dan bahagia hidup bersamaku. Semoga aku menjadi istri yang dapat menyejukkan hatinya dan taat kepadanya. Semoga suamiku dapat diberikan kesabaran jika aku sebagai istrinya melakukan kesalahan. Duhai suamiku, tolong dengan sabar terus menasehatiku dan mendoakanku agar hatiku dan akhlakku menjadi lebih baik dan taat kepadamu. Semoga aku dijauhkan dari hal-hal yang dapat membuat hatimu sedih dan jengkel. Semoga kita berdua selalu bersama hingga menuju syurga Allah. Betapa aku ingin , kita tetap bersama di syurga kelak.

Aku juga sempat membaca bahwa agar terjaganya rumah tangga dari hal yang tidak baik adalah dengan menambah amalan berupa solat sunnah. Semoga rumah tangga kami dijauhkan dari hal yang tidak baik, selalu diberikan kesejukan, dihimpun dalam kebaikan-kebaikan dan tabah jika suatu saat nanti ditimpa oleh masalah. Semoga Allah meridhoi setiap langkah kami dan menjaga kami. Amiiin.