RSS

Rabu, 13 Maret 2019

Newbie Traveller 38 - Bermalam di Hotel CItismart Bandara Pekanbaru

Hai hai..
Kembali lagi di blog hore horenya akuh.. Kemaren udah pada tau yah kalau aku lagi di Pekanbaru. Nah, sekarang aku mau berbagi pengalaman nih buat temen-temen yang mau ke Pekanbaru. Well, langsung aja yak..

Jumat itu, 29 Juni 2018 aku berangkat dari Medan ke Pekanbaru pukul 12.50 wib. Tiba di Pekanbaru sekitar pukul 14.30. Berhubung hari itu aku bawa bagasi jadinya nunggu bagasi deh. Karena ini adalah kali pertama aku ke Pekanbaru, eh engga ding yang kedua kali. Aku tetep aja masih keliatan newbie, polos gitu. Nah, katanya suami aku, dia udah pesan kamar di Hotel Citismart Bandara yang jaraknya emang deket banget ama bandara. Lah, sama aja toh mau dijelasin kayak gimana juga aku kan gatau. Saran dari suami aku, naik taksi aja. Abisnya takut gatau turun dimana. ini dia nih. Biasa dimana-mana kesempatan abg mamang taksi buat nipuin costumer. katany aku langsung naik aja, eh pas naik taksi rupany gak pake argo. Bah, dia pasang harga 40ribu hanya untuk jarak 750 meter. Ga sampe satu 1 kilometer. Tau gitu, aku jalan kaki aja. Hahahha..

Aku pun nelpon sang suami dan sambil ngomong dengan nada kesal, "apanya juga mas nyuruh naik taksi, yang ada kena tipu. sebegini deketnya, mahal banget". Trus pas nyampe, abang taksinya bilang, "bayar seberapa yang Ibu sanggup aja buk". Baaaahhhh.. baru tau dia suami aku orang Pekanbaru, dikira bisa ditipunya aku ini. Huft. Zebeeelll.... jadi mendingan sarannya aku, naik damri saja, nanti turun di depan Gelanggang Remaja, cuma bayar 4ribu. Nah setelah itu, baru deh pesan grab car. Bakalan lebih murah da pastinya ga sakit hati gara-gara berantem sama supir taksinya.

Hasil gambar untuk citismart bandara pekanbaru

Sumber: Traveloka.com

Well, aku sudah tiba di Citismart Bandara. Pelayanannya bagus, begitu ngeliat ada pelanggan yang masuk, mereka langsung negbantuin angkat barang-barangnya kita. Hotelnya juga bagus, standar sih. yang jelas lobby nya cozy banget. Tempat sarapan paginya juga cozy banget. menunya juga enak. Harganya kalau di traveloka mulai dari 185ribu rupiah. Kalau lagi ada diskon mungkin bisa lebih murah, atau pake Paylater.

Ohya, kalau mau murah transportasinya ya pake bus metro pekanbaru, atau biasanya kalau orang Pekanbaru sini bilangnya 'busway'. Kalau damri itu bis kota edisi lama, yang udah jeleeek banget bisnya. Nah kalau naik busway ini mau kemana aja harganya ya sama, cuma 4ribu aja. Mau transit beberapa kali pun tetep aja harganya 4ribu, tapi inget kalau kamu transit kamu harus nunjukin tiketnya, jadi tiketnya ya jangan ilang. Kalau dari Bandara SSK II, kamu bisa naik busway nomor 01, nah nanti turun aja di halte depan Gelanggang Olahraga Remaja. Nah dari situ kamu bisa pesan grab car atau gocar untuk melanjutkan perjalanan ke Citismart Hotel Bandara, bayarnya cm 10-15ribuan kok, apalagi kalau ada promo Gocar, wah jadi lebih murah, palingan totalnya smua ditambah ongkos busway ya cuma 20ribuan. Cuma ya itu, kadang busway di bandara nunggunya rada lama.

Sekian dulu yaaa.. semoga bermanfaat.

Senin, 30 Juli 2018

Newbie Traveller 37 - Berkunjung ke Pekanbaru

Ini kali kedua saya ke Kota Bertuah, Pekanbaru. Kali pertama beberapa bulan lalu sebelum bertunangan dg si dia, sang suami. Itu pun cuma transit saja. Ternyata memang berjodoh, hingga bisa kembali menginjakkan kaki di kota ini bersama orang yg spesial yaitu suamiku mas Lukman Supriadi ❤
Gambar 1.
Saya sempat kebingungan ketika tiba di bandara Sultan Syarif Kasim II Int Airport, betapa tidak, hal itu dikarenakan bahasa petugas setempat yang kurang bisa saya mengerti. Petugasnya bilang, "satu, duwe, tige. Terime kasih". Ah, ternyata bahasa Melayu. Menurutku, mereka sangat cepat dalam bertutur kata dan aku berkali-kali, "Maaf kak,bisa diulangi lagi?"




Gambar 2.
Keluar dari bandara, ternyata bangunannya masih ala-ala melayu dan banyak tulisan arab melayu. Jadi ingat pelajaran muatan lokal ketika SD dan SMP, arab melayu. Jadinya, aku ga keliatan bodo-bodo amat.



Gambar 3.
Pekanbaru terkenal dengan jumlah tugunya yang cukup banyak. Salah satunya ini, Tugu Selamat Datang yang lokasinya tidak jauh dr bandara.




Gambar 4.
Perpustakaan Wilayah Provinsi Riau yang menurutku guedeeee banget dibandingkan dengan perpustakaan wilayah propinsi yang pernah aku lihat di Aceh. Pengen masuk, tapi hari itu libur.



Gambar 5.
Tugu Zapin namanya, berada dekat dengan perpustakaan wilayah. Katanya sih ini salah satu ikon Kota Pekanbaru.
Tugu Zapin ini juga berada tepat berada di titik 0 (nol) kilometer Pekanbaru. Sebelumnya di tempat ini berdiri tugu Pesawat. Tugu Zapin ini terbuat dari perak dan berharga 4,5 milyar.



Gambar 6.
Kala itu dengan polosnya aku bertanya pada suamiku, "Sayang, siapa sih Raja Haji Ali itu? Kok ini tempatnya luas banget?"
Suamiku tersenyum manis sekali kepadaku dan mulai menjelaskan, "Istriku sayang, ini adalah Bandar Seni Raja Haji Ali atau dikenal juga dengan Bandar Serai. Ini adalah tempat diselenggarakannya MTQ Nasional yang pertama kali dan yang ke 17. Di dalamnya ada Anjungan Idrus Tintin yang namanya diambil dr nama salah satu seniman Riau yang lahir di Kabupaten Indragiri Hulu. Anjungan tersebut adalah tempat diadakannya pertunjukan budaya dan seni, tepatnya tempat berkumpul para seniman Riau dan nasional. Seperti pada tahun 2007, tempat ini menjadi tempat diselenggarakannya Festival Film Indonesia (FFI)".




Wah, ternyata banyak sekali sejarah di Kota Pekanbaru yang belum aku ketahui. Terima kasih suamiku @lukman_supriadi atas jalan-jalan singkatnya di Kota Pekanbaru namun penuh wawasan ❤ @ Pekanbaru

Newbie Traveller 36 - Saung Pengkolan 2

Ada banyak tempat wisata yang dapat dikunjungi oleh para wisatawan di Bandung. Pada postingan sebelumnya yang udah pernah diunggah, ada beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi seperti farm house, floating market, tangkuban perahu, dan lainnya. Tempat wisatanya memang dikonsep sedemikian rupa. Meski di Bandung ini banyak banget tempat wisatanya, tapi tetep aja ga pernah kehabisan ide untuk menyulapnya jadi tempat yang ketjeeehh dan asik. Cafe dan restoran udah berjamur banget di Bandung ini alias buaanyyaaakk banget. Salah satunya adalah tempat makan yang namanya Saung Pengkolan. 

Pada tulisan kali ini, aku pengen sedikit bagi pengalaman. Mana tau temen-temen yang lagi liburan di Bandung bisa mampir ke sini. Lembang dan Dago adalah titik lokasi berkumpulnya tempat wisata dan cafe yang keren buat ditongkrongin. Hmmm... Saung Pengkolan? Ini apa ya? Saung Pengkolan diambil dari bahasa Sunda. Kata 'saung' kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V, kata 'saung' memiliki arti bangunan kecil seperti rumah di sawah atau di kebun dan kata 'pengkolan' berarti tikungan atau keluk (jalan dan sebagainya). Jika dibaca dari artinya aja pasti para pembaca udah tau ya, kalau itu adalah rumah yang ada di tikungan jalan. Yaps, benar sekali! Saung Pengkolan yang aku sambangi adalah rumah makan yang ada di pengkolan jalan. 

Saung Pengkolan ini ada 3 tempat, yang Saung Pengkolan 1 ada di deket Tangkuban Perahu, Saung Pengkolan 2 berada di jalan raya lembang, dan yang Saung Pengkolan 3 deketnya Kampung Gajah arah ke dusun bambu. Menurut aku, lokasinya strategis, ada pemandangan yang indah banget di sekelilingnya, kayak hutan-hutan hijau gitu.. Mestinya di daerah Saree, Jalan Medan-Banda Aceh bisa deh dibuat rumah makan yang kayak beginian.

Kali ini aku sama adek-adekku pergi ke Saung Pengkolan 2, yang lokasinya berada di Jalan Raya Lembang. Kalau dari kampus UPI atau Mesjid Darut Tauhidnya Aa Gym, kamu bisa naik Angkot warna putih yang jurusan St. Hall - Lembang. Kamu cukup bayar ongkos angkot 5ribu rupiah saja. Kalau kamu perginya bareng-bareng mendingan naik grab saja, sekitar 15rb hingga 25ribu, bergantung kemacetan sih. Kalau pakai promo perjalanan bisa lebih murah lagi. Nah, kalau ga macet 15-25 menit udah sampe, tapi kalau macet parah bisa sejam atau bahkan dua jam perjalanan menuju lokasi tersebut.



Pemandangannya asri banget


Ada 3 lantai tempat makannya dan di setiap spot kita bisa foto-foto


 Rumah makan Saung Pengkolan 2 ini makanannya juga enak-enak banget loh.. Hmm.. Yum yum.. Harganya memang lumayan mahal start from 10-80ribuan. Air mineral aja 10ribuan. Hehe.. Tapi porsinya emang gede sih, mengenyangkan banget.


Menunya jus terong belanda mixed, nasi plus sayur asem dan ayam
Eh, ada lotek juga dan ada tahu

Kalau di Aceh, lotek itu semacam pecel. nah bedanya di sini kalau bilang pecel itu pecel lele, alias lele penyet pake nasi. kalau di Aceh mah kayak lele penyet, ayam penyet.

ohya, jangan takut ya.. di sini ada musolla dan bahkan ada hotel juga. Jadi kalau mau bermalam bisa juga loh. Segitu aja deh, Semoga Bermanfaat ya...






Sabtu, 21 Juli 2018

Perlukah Memarahi Siswa?

Perlukah seorang guru memarahi siswanya?
Bahkan mungkin orang tuanya saja tidak pernah memarahinya.
Tapi ia tetap berangkat ke sekolah dan mengikuti pembelajaran di kelas meski mungkin hatinya sedih karena Anda memarahinya.
Perlukah seorang guru memarahi siswanya?
Ingat, meski guru adalah orang tua kedua siswa, tapi Anda bukanlah orang tua sedarahnya.
Tapi ia tetap berangkat ke sekolah dan mendengarkan perkataan Anda selama pembelajaran di kelas meski mungkin ia sedang tidak konsentrasi.
Perlukah seorang guru memarahi siswanya?
Bisa saja, siswa itu memiliki masalah di rumahnya,
misalnya saja, orang tuanya baru saja bertengkar di depan matanya, atau
ia melihat Ayah/Ibunya selingkuh dengan perempuan/laki-laki lain, atau
ia melihat Ayah/Ibunya membunuh, mencuri, atau hal buruk lainnya.
Tapi ia tetap berangkat ke sekolah meski mungkin hatinya hancur.
Perlukah seorang guru memarahi siswanya?
Padahal mungkin ia datang ke sekolah dengan perut lapar karena di rumahnya tak ada makanan,
ia tetap masuk ke kelas dan mengikuti pembelajaran.

Anda tau kenapa ia tetap bersekolah?
Karena orang tuanya dan Anda, gurunya selalu berkata,
"Dengan belajar di sekolah maka kamu akan menjadi orang pintar, menjadi orang sukses, kamu dapat menggapai cita-citamu kelask, kamu tidak akan ditipu," dan masih banyak lagi iming-iming lainnya.
Lantas jika demikian, patutkah sebagai seorang guru malah menghancurkan impian dan cita-citanya dengan kata-kata kasar Anda?

Mereka bukan anak kandungmu,
mereka hanyalah titipan orang tuanya padamu,
jika memang orang tuanya tidak mampu mengajarkan kebaikan di rumah,
maka Anda-lah sebagai gurunya yang merupakan harapannya anak, 
sandaran mereka jika orang tuanya sibuk,
Anda-lah sebagai gurunya yang akan memberikan petuah dan nasihat untuk menyejukkan hatinya.
Anda-lah sebagai gurunya tempat ia bercerita keluh kesahnya.

Bisa jadi Anda memarahi siswa hari ini,
mungkin 10 tahun ke depan, bisa jadi dialah yang paling pertama yang akan mengulurkan tangannya untuk Anda karena ia mengingat Anda pernah menjadi gurunya.
Bisa jadi Anda memarahi siswa hari ini,
mungkin 10 tahun ke depan, dialah yang akan memperdulikan Anda karena ia mengingat bahwa Anda pernah mengajarinya dulu.
Tidak ada yang pernah mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan.

Selain mengajarkan ilmu pengetahuan, seorang guru juga memberikan contoh yang baik kepada anak, seorang guru yang memiliki budi pekerti baik, bukan malah menghancurkan.
Semoga kita menjadi guru yang baik bagi siswa kita.


Minggu, 08 Juli 2018

My Happiest Day Ever!

Alohaaaa...
Udah berapa bulan ya ga nulis di blog? Hampir 3 bulan sepertinya. LoL
Iya nih, akibat dirundung musibah yang bertubi-tubi. Tapi, Alhamdulillah sekarang semuanya sudah kembali lancar. Terima kasih ya Allah. Aku yakin deh, ga selamanya hujan terus turun, pasti akan tiba masanya reda dan berhenti yang kemudian disambut pelangi. Aw aw, co cwiiitt.. 

Hari ini pengen nulis tentang, My Happiest Day Ever!
Apaan sih? Akhirnya aku nikah, muah muah. Alhamdulillah aku sudah dipertemukan dengan jodohku oleh Sang Maha Pengatur Jodoh.  Aku menikah dengan seorang lelaki Jawa yang bernama Lukman Supriadi pada tanggal 24 Juni 2018, tepatnya hari Ahad dan hari ke-10 Syawal 1439 H yang katanya sih hari baik menikah itu di bulan Syawal di tanggal 1, 10, dan 20. Ada hadisnya sih, tapi aku lupa, nanti deh dicrosscheck lagi. Inget ga sama tulisan aku di blog ini tentang Stranger. Ya itu, ternyata dia menjadi suamiku sekarang. Hihihihi.

Ternyata ada banyak rintangan ya ketika akan menikah. Nasihat dari kakak ku agar banyak-banyak membaca doa agar diberi kemudahan. Suamiku dulu sebelum menikah juga sempat memberikan nasehat kalau-kalau nanti ada kesalahpahaman hendaknya salah satunya diam dan jangan menambah masalah. Selain itu juga perbanyak sabar, jika memang tidak ada hal penting yang dibicarakan hendaknya jangan berkomunikasi. Iya, ditakutkan hanya karena masalah sepele malahan jadi masalah besar akibat setan terus saja mengusik kita. Kenapa sih setan mengusik orang yang mau menikah. Ya jelas! Menikah adalah ibadah besar yang mana semuanya menjadi pahala. Tersenyum pada suami/istri jadi pahala, membuatkan secangkir teh saja sudah jadi pahala, berpegangan tangan saja jadi pahala, mencium kening istri jadi pahala, mencium tangan suami sebelum ia berangkat bekerja juga jadi ladang amal yang berlimpah, mencari nafkah dengan niat untuk mencukupkan kebutuhan istri menjadi pahal. Bayangkan kerja dari jam 7.30 sampai jam 17.00 setiap detiknya menjadi pahala. Waaahhhhh... pantesan aja setan makin gencar buat menggoda para calon pengantin agar tidak jadi menikah. Dasar ya si setan itu.

Setelah menikah, setan juga teruuuussss aja menggoda. Misalnya, hal sepele bisa jadi masalah besar. Pesan orang tuaku adalah agar selalu taat pada suami. Apa-apa ditanyakan pada suami, mau keluar jangan lupa minta ijin sama suami. Nah, itu katanya ayah. Kalau katanya mama, jangan pernah membantah kata suami selagi itu baik, hilangkan egois dalam diri, kalau salah jangan gengsi atau enggan minta maaf, kalau suami pulang kerja disambut dengan senyuman, rawat diri baik-baik dan cantik ketika di depan suami, jangan pemalas juga. Suami itu paling ga suka istri pemalas. Kalau pesan dari kakakku, jangan pernah melupakan keluarga meski sudah bersuami dan apabila suami ada kesalahan sepele jangan dibesar-besarkan, jika ada masalah besar ya dikecilkan. Wahh.. petuah-petuah yang sangat baik dan aku sangat senang.

Jika ditanya orang, bagaimana perasaannya setelah menikah? Ya Allah, Alhamdulillah yang tak henti rasanya ingin aku ucapkan. Aku mendapatkan suami yang rajin solatnya, baik hatinya, pengertian, perhatian, pekerja keras dan romantis. Suamiku juga orang yang selalu mengingatkanku dalam kebaikan-kebaikan. Aku merasa orang tuaku memang sedih karena anaknya harus pergi jauh karena ikut dengan suami. Tapi di satu sisi, mereka bahagia karena suami yang mendampingiku adalah sosok yang mereka anggap bisa menggantikan tanggung jawab mereka sebagai orang tua dengan baik. Meski ada yang bilang, "Ah, namanya juga pengantin baru, wajar aja lah masih romantis, coba deh udah setahun, udah biasa aja pasti, sering ribut." Astaghfirullah, semoga Allah jauhkan hal-hal yang tidak baik dalam rumah tangga kami. Tapi sebenarnya, ada kok beberapa orang yang setelah menikah malah merasa tidak bahagia, merasa terkurung karena apa-apa harus ijin suami, karena apa-apa harus menuruti kata-kata suami. Bahkan sampai 2 tahun menikah pun masih  merasa ga bahagia. Semoga Allah jauhkan kami dari godaaan syetan yang terkutuk ituhhh! 

Suamiku selalu berpesan agar tidak berlebihan dalam hal apapu, selalu lah kita bersyukur kepada Allah baik dalam hal senang ataupun susah. Jadi teringat ketika kami berdua selesai makan sate padang di Restoran Plaza Pekanbaru. Aku berkata, "Adek kenyang mas." Sontak suamiku berkata, "Dek, ga boleh gitu. Bilangnya Alhamdulillah.. Alhamdulillahilladzi ... ", Aku pun langsung tersipu malu karena lupa membaca do'a usai makan. "Astaghfirullah, iya mas" Aku pun membaca do'a usai makan. Lanjut suamiku berkata, "Baca doa dulu, ingat Allah dulu. Baru deh bilangnya adek kenyang mas. Gitu sayangku ya.." Kalau diingat-ingat, rasanya aku bahagiaaaaaaaaaa sekali, sampai saat ini aku merasa bahagiaaa sekali mendapatkan seorang suami yang hatinya tertaut pada Allah. Alhamdulillah terima kasih ya Allah telah memberikanku suami yang luar biasa. Suamiku yang selalu bekerja keras, terima kasih suamiku. Semoga suamiku selalu sehat dan bahagia hidup bersamaku. Semoga aku menjadi istri yang dapat menyejukkan hatinya dan taat kepadanya. Semoga suamiku dapat diberikan kesabaran jika aku sebagai istrinya melakukan kesalahan. Duhai suamiku, tolong dengan sabar terus menasehatiku dan mendoakanku agar hatiku dan akhlakku menjadi lebih baik dan taat kepadamu. Semoga aku dijauhkan dari hal-hal yang dapat membuat hatimu sedih dan jengkel. Semoga kita berdua selalu bersama hingga menuju syurga Allah. Betapa aku ingin , kita tetap bersama di syurga kelak.

Aku juga sempat membaca bahwa agar terjaganya rumah tangga dari hal yang tidak baik adalah dengan menambah amalan berupa solat sunnah. Semoga rumah tangga kami dijauhkan dari hal yang tidak baik, selalu diberikan kesejukan, dihimpun dalam kebaikan-kebaikan dan tabah jika suatu saat nanti ditimpa oleh masalah. Semoga Allah meridhoi setiap langkah kami dan menjaga kami. Amiiin.



Senin, 30 April 2018

Menikah Seperti Hitungan Matematika

Bandung, 3 April 2018

Ahhh.. Ternyata sudah sangat lama tidak menulis uneg-uneg di blog tercintah ini. Abisnya gatau sih mau nulis apa. Tapi sekarang  udah ada beberapa yang pengen ditulis. Salah satunya adalah tulisan kali ini. Tulisan ini terinspirasi saat perjalanan dari kosan ke sekolah penelitian tesisku. #Apaansih? Kayaknya gak ada hubungannya deh. Hahaha..

Well,
Menikah. Tentu bukan hal yang mudah, tapi juga bukan hal yang terlalu rumit. Aku menggambarkan kata "menikah" dengan sangat sederhana. Ada yang mau tau? Seperti hitungan pada operasi tambah. Ya, menikah itu seperti angka 1 ditambah 1 sama dengan 2. Secara matematis dapat dituliskan 1+1=2.
Sangat sederhana, bukan? Sederhana tapi punya makna mendalam menurutku. Kok bisa sih? Aku akan mencoba menguraikan apa maksudnya.

Menikah ⇒ 1+1=2
Ya, menikah sama artinya satu orang laki-laki dan satu orang perempuan yang kemudian hidup berdua bersama-sama selamanya. Namun ingat, angka 1 berubah menjadi angka 2. Itu artinya, jika dulu sebelum menikah, satu orang atau seorang perempuan dan satu orang atau seorang laki-laki hanya memikirkan dirinya sendiri. Namun ketika sudah menikah, maka tidak ada lagi yang hanya memikirkan dirinya sendiri, semuanya adalah berdua. Tentu hal ini tidak mudah. Berikut ini akan saya tunjukkan beberapa contoh sederhana dala kehidupan sehari berdasarkan observasi terhadap pasangan yang sudah menikah.

Contohnya saja, mungkin ketika dulu masih sendiri atau pada masa lanjang, seorang laki-laki yang sudah bekerja dan berpenghasilan 5juta setiap bulannya akan merasa sangat cukup. Bahkan mungkin, sangat cukup untuk berfoya-foya dan membeli barang branded di mall. Tapi, ketika menikah mungkin penghasilan 5juta rupiah tersebut belum mencukupi karena si laki-laki harus membiayai kebutuhan pasangannya atau sebut saja, istri. Apakah para laki-laki sudah siap dengan semua itu?  Apakah para laki-laki sebagai suami sudah siap berbagi uang dari hasil keringatnya hanya untuk istri dan anak-anaknya? Apakah para laki-laki sudah baik ibadahnya? Karena ketika nanti dirimu menjadi suami maka tanggung jawabmu sesungguhnya adalah amat besar. Duhai para laki-laki calon suami, kelak jika engkau menikah maka engkau akan menggantikan posisi ayah dan ibu si perempuan yang akan menjadi istrimu. Sudah siapkah engkau menjaga anak perempuannya dan menggantikan posisi orang tuanya?Aku cuma pengen mengajak para laki-laki untuk sedikit berpikir. Peran menggantikan kewajiban dan tanggung jawab orang tua dari si perempuan yang merupakan istrimu bukan hanya memenuhi nafkahnya dan kebutuhannya saja secara materiil, tapi seluruh nafkah lahir batin. Dulu ketika perempuan itu belum menjadi istrimu, saat ia sakit maka si orang tua perempuan tersebut merawatnya dengan penuh kasih sayang dan memenuhi segala kebutuhannya pada saat sakit. Kemudian menurut kalian para laki-laki, apakah kalian sudah dikatakan sebagai suami yang patut ditaati jika istri sedang sakit malah tak kau pedulikan, tak kau rawat malah kau cuekin saja?? TENTU TIDAK! Seorang istri akan sangat senang jika suaminya memperhatikan dirinya secara lebih saat ia sedang sakit dan membutuhkan sandaran. Apakah kalian para laki-laki sudah siap menyisihkan waktu istirahat kalian untuk merawat istri yang sedang sakit? Apakah kalian para laki-laki sudah siap menyisihkan waktu istirahat kalian hanya untuk mendengarkan keluh kesah istrimu? Apalagi jika suatu saat nanti, kedua orang tua perempuan tersebut telah tiada. Maka hanya engkaulah, duhai lelaki yang menjadi suami, tempat si perempuan itu mengadu dan berkeluh kesah. Bukankah dulu sebelum engkau menjadi sandaran perempuan tersebut, orang tuanya lah tempat ia mengadu, orang tuanya lah tempat ia berkeluh kesah. Orang tua si perempuan menerima apa adanya dengan keadaan anak perempuannya, menegur dengan kasih sayang jika anak perempuannya berbuat salah. Lantas, apakah kamu para suami pantas menuntut ini dan itu kepada perempuan itu yang sekarang menjadi istrimu? Lantas, apakah kamu para suami pantas memarahi perempuan itu yang sekarang menjadi istrimu? Sungguh kamu sangat tega jika kamu memperlakukan tidak lebih baik dari orang tua si perempuan tersebut. Lantas, kenapa kamu memutuskan untuk menikah? Hanya karena hubungan seksual yang tak dapat kau tahan lagi? Jangan, saranku jangan engkau menikah hanya karena itu. Pikirkanlah secara matang, karena ketika kau menikah, kau bukan lagi satu tapi kau adalah dua dengan seorang  istrimu. Kau harus membuang egomu dan berani meminta maaf. Duhai para lelaki kalian harus tau bahwa ketika menikah, kalianlah yang menjadi sandaran istri kalian. Kalian lah yang menjadi pengganti orang tua istrimu itu. Jikalau kau adalah lelaki yang baik dan bertanggung jawab maka kau akan sadar dengan peranmu yang sesungguhnya. Peranmu bukan saja menjadi suami, namun juga pelindung sama halnya seperti Ayah si istri yang melindungi anaknya. Peranmu bukan saja menjadi suami, tapi juga seperti Ibu si istri saat istri sedang sakit. Betapa ia membutuhkan kasih sayang seorang ibu, namun engkaulah para suami pengganti ibu sitrimu itu. Pernahkah kamu melihat betapa sabar sang ibu menjaga anaknya? Begitulah harusnya kalian para lelaki yang dengan sabar dan memberikan kasih sayang yang lebih saat anaknya sakit layaknya seorang Ibu. Mungkin memang tidak mungkin akan sempurna namun setidaknya engkau telah mencoba.

Kasus lain lagi, mungkin pada saat masa lajang, seorang perempuan yang ingin bepergian kemana saja ya langsung pergi saja. Tapi ingat, ketika sudah menikah maka ia harus meminta izin sang suami untuk keluar dari rumah. Jangan langsung keluar tanpa seizin suami. Logika yang sangat indah. Mengapa seorang perempuan yang sudah menikah tak boleh sering keluar rumah dan tak boleh tanpa izin suami? karena ditakutkan melakukan kegiatan gosip yang berujung pada membuka aib keluarga. Yang lebih ditakutkan lagi adalah membuka aib suaminya sendiri. Nah loh... Ingat, sekrang kamu udah engga sendiri lagi, seorang perempuan punya tanggung jawab di rumah yaitu mengurus suami. Kamu ga hidup sendiri lagi, ada yang harus diurusi di rumah. Nah, sekrang pertanyaan bagi kaum perempuan. Sudah siapkah kalian mengambil tanggung jawab tersebut? Ya kalau belum, jangan menikah dulu. Belum tentu suamimu akan memahami sifatmu, belum tentu suamimu akan menerima keadaanmu dulu yang suka jalan-jalan dengan bebas. Beruntung bisa mendapat suami yang paham kondisi kamu, duhai perempuan. Tapi apakah mungkin setiap saat dipahami terus? Tentu ada kewajiban kamu yang harus kamu penuhi. Kasihan kalau suamimu terus-terusan yang memahami kamu. Tentu kamu harus juga memahami suami. Nah kalau begini kan indah.

Maka konsep yang diingat adalah sekarang kamu bukan 1 lagi tapi 2. Ada banyak ego dan harga diri yang terkadang harus dibuang jauh agar hubungan tetap harmonis.

Pesan Bermakna dari Hidup Merantau

Beberapa hari ini banyak sekali orang-orang di sekitar saya yang mengeluhkan moral seseorang yang bikin kesel nan pengen ditabokin. Hahahah.. Jadi saya kepikiran untuk menganalisis fenomena ini. Meski mungkin gak penting bagi sebagian orang. Tapi bagi saya, saya sangat bersyukur. Kenapa? Karena bisa jadi pembelajaran bagi diri saya sendiri sehingga tak mengulangi hal tersebut. Menurut pengamatan saya, hal ini dikarenakan kurangnya pengalaman hidup merantau di negeri orang. Eh, kok bisa sih? Ya bisa dong. Yuk kita simak ulasannya.

1. Hidup merantau menempa diri menjadi pribadi yang peka terhadap keadaan
Poin ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi. Orang yang hidup merantau biasanya akan menjadi lebih sensitif dan peka terhadap keadaan. Eits, tunggu dulu! Keadaan yang bagaimana nih maksudnya? Begini, contoh kasusnya aja langsung ya.. Ketika hidup merantau, gaes pasti pada jauh dari orang tua dan keluarga. Kalau sakit, mau minta tolong sama siapa kecuali teman. Memang sih semua pertolongan mintanya sama Allah. Tapi kan kita butuh juga orang lain buat nitip belikan makanan ke luar kalau kita lagi sakit, ga mungkin kan dengan berdoa sama Allah terus makanan udah turun aja dari langit. Kita mah bukan Nabi atau Rasul, kita harus sadar kita hanya manusia tanpa mukjizat. Itulah yang dinamakan ada do'a dan ada ikhtiar. Okay, back to the topic! Dengan adanya tolong-menolong antara teman saat hidup merantau maka akan melatih kita menjadi seorang pribadi yang peka untuk menolong teman kita tersebut jika dia sedang sakit. Betapa indahnya bukan? Terus saat jauh dari orang tua, kita perlu duit, ada teman yang membantu kita. Pasti kita bakal ngerasa tertolong banget. Bukan berarti orang tua ga membantu kita, misalnya aja hari libur, orang tua ga ada atm, dan harus ke bank sedangkan bank tutup di hari libur. Ga mungkin kan kita ngerepotin orang tua kita yang udah tua buat ke sana ke mari nyari dan pinjem atm tetangga. Duuuhhh, sepele banged sih permasalahannya sebenarnya tapi sampe ngerepotin orang tua. Hellllooooooo, mau sampe kapan sih kita ngerepotin orang tua? Sekarang mah bukan waktunya lagi kita ngrepotin orang tua. Udah cukup deh sampe SMA terus sarjana, eh sekarang udah kerja dan udah lanjut sekolah S2 masih juga ngrepotin. Ga mau coba ngambil pintu surga dengan birrul walidain? waduh, kok aku jadi ceramah gini sih. Ya, intinya gitu, jadi saat ada teman yang ga ada uang buat bayar sesuatu yang urgent maka kita akan peka buat ngebantu dia, karena dulu kita pernah di posisi yang sama dengan dia. Karena dulu kita pernah di posisi dia, jadi kita bisa ngerasain gimana susahnya terus ada orang yang ngebantuin kita. Rasanya lega banget dan tertolong tiada tara. Oleh karena itu, kita peka buat membantu dan memahami kondisi orang lain.

2. Hidup merantau membentuk diri kita untuk menjadi pribadi yang pemberani
Well, kalau yang ini pasti tanpa perlu dijabarkan semua orang juga tau. Semua orang sebenarnya punya rasa takut di hati kecilnya, bahkan orang tang terlihat berani pasti punya rasa takut. Tapi, sekarang tinggal kitanya sendiri sih mau menanggapinya seperti apa. Mau terus menerus diliputi rasa takut atau melawan rasa takut? kalau aku lebih memilih melawan rasa takut dan keluar dari zona nyaman. It's me and i love challenge! Kasusnya sederhana banget. Aku tes UPI di bandung tanpa kenal siapapun, cuma modal nyari temen S1 dan nginep di rumah temennya temen S1 itu. Kita juga gatau bentuk bandara Bandung itu kayak gimana, takut dicopet? takut kesasar? Pasti! Modal utamanya, minta tolong sama Allah. Allah ga cuma di Aceh, Allah ada di Bandung, di Australia, di Eropa, di Mekkah.. dimana-mana ada Allah, jadi semayamkan aja dulu dalam hati, asal tujuan kita baik, Allah akan selalu menolong langkah dan perjalanan kita. Kitanya mah tinggal usaha, doa dan yakin aja. Nah, yakin akan ditolong Allah ini yang masih banyak orang belum kuat menanamkannya di hati sehingga menjadi takut. Setelah nyampe di bandara Bandung, aku naik taksi ama temenku, terus kita dibawa muter-muter sama si bapak supir taksi sampe argonya naik terus. Yah, aku pake google map juga dong, sampe aku marahin aja itu si supir. jangan takut sementang kita orang baru digituin. Ya, aku marahin dong, kalau emang niat ya pasti nganterinnya bener, ya kalau ga tau jalan, ya nanya dong, jangan muter-muter sok tau, argo makin naik. Pengen aku tabok juga itu supir! Sampe akhirnya si supir nanya ke orang di situ daerah gegerkalong girang yang mana. Aku bilang, nah kan bener yang saya bilang, ga percaya sih pak. Makanya pake google map. Bla bla aku ceramahin deh. Hahaha.. Biar ga gitu sama penumpang lain, sengaja banget biar argonya naik. Dia mah untung, gua mah rugi. Ya gitu deh pengalaman aku ke Bandung pertama kali. Pas balik lagi ke Bandung buat studi aku juga pergi sendiri, ga dianterin orang tua. Kalau dipikir-pikir ya sedih sih ga dianterin, tapi ya mau gimana kesian orang tua aku kalau beliau balik sendiri ke Acehnya, udah tua, lama jalannya, capek di jalan, apalagi transit di Medan itu jauh jalannya karena bandaranya luas banget. Daripada orang tua aku yang capek dan kesaar mendingan aku pergi sendiri aja. Semayamkan aja di hati, orang tua kita pasti selalu mendoakan tiap langkah perjalanan kita. Itu artinya orang tua selalu di samping kita. Then, kasus lain lagi.... Ada orang yang takut naik di Bandara yang ga pernah dia kunjungi sebelumnya. Sama, aku juga ga pernah tuh naik di Bandara Soetta yang terminal lain selain terminal Lion Air, yang di 2B dan 2F. Dulunya 2F itu Garuda Indonesia, tapi sekarang Sriwijaya Air. Nah, aku juga pertama kali ke situ. Tapi karena akunya pengen tiket hemat, juga suka tantangan baru dan tempat baru. Jadinya asik dan seru aja, jadi tau banyak hal. Coba deh aku cuma di situ-situ aja, duh kapan berkembangnya kayak katak dalam tempurung dan seseorang yang pengecut. Ga berani keluar dari zona nyaman. What the .... Padahal umur udah 25, apa gatau ya setelah ini bakalan banyak tantangan dalam hidup. Capek? Wow! Di luar sana orang cari uang dengan sangat capek loh hanya untuk 5000 rupiah saja. Wahhhh.. daebak, ini orang ga pernah hidup susah kali ya. inget deh ya, hidup ga selalu di atas akan ada saatnya di bawah. Kalau sekarang ga berlatih hidup prihatin, ga yakin deh kamu bakalan bisa hidup nantinyaaa. Aku doain deh kamu bisa siap. Kesian liatnya. Tapi ya terserah, hidup lu ya pilihan elu. Kalau gamau capek itu artinya elu harus punya banyak uang biar hidup lu enak terus. Iya mungkin sekarang hidup enak ga perlu kerja karena uang negara, tunggu aja entar setelahnya.

3. Hidup merantaau menjadikan diri kita saling menghargai orang lain
Saat merantau. kita akan bertemu banyak orang dan beragam karakter. Tentu dengan demikian kita akan belajar untuk saling paham kalau ga semua orang punya karakter yang sama dengan kita. Ga semua orang akan melakukan sesuai dengan yang kita inginkan. Rambut sih sama hitam, tapi isinya beda, vroh! Kamu mau maksain sama dengan yang kamu mau? Kamu sendiri yang ujungnya bakalan makan hati. Diri ga tenang, yah abisnya maksain diri agar orang lain sama dengan kamu. Ga akan mungkin kita bakalan nemuin orang yang sama banged dan persis kayak diri kita. Yang jelas, kita yang harus lebih fleksibel dalam bergaul dengan orang lain, saling menerima perbedaan dan menghargai. Bukannya malah langsung nyolot, protes dan kesel. Heran deh aku ngeliat orang-orang yang ga nerima perbedaan orang lain. Ada sih yang bilangnya gini, dia baik ya baik, tapi kurangnya ini dan itu. What the hell she is! Emang lu udah sempurna? Emang sesuci apa sih elu? Sampe berani bilangin orang kayak gitu. Ga perlu lu bilangin kurangnya gue juga udah tau, tapi gue ga mempermasalahakn kekurangan dia. Lama-lama aku gerah punya temen kayak gitu. kerjaannya protes dan nyari kekurangan orang lain. AKu tebak deh, di depan orang lain dia bakalan ngomongin kekurangan aku. I am totally sure but I don't care! Pantesan aja orang begitu ga ada temennya, gimana engga gtu? Saat dia hidup merantau kalau sifatnya itu dipertahankan terus dan ga berubah ya pasti ga ada temennya. Ya, karena dia ngerasa ga ada yang cocok sama dia, dia yang paling sempurna, paling keren, paling hebat, dan paling paling lainnya. Kalau gaes ketemu orang begini, pasti ini orang ga berani menerima kritikan, pas dikasih kritikan langsung deh dia menjauh dari kita. Cobain aja, aku yakin 100 persen deh! Hahahaha. Dia berani mengkritik orang tapi ga siap menerima kritikan orang lain terhadap dirinya. Aku kasian sih liatny, pengen ngebantu orang-orang begini. Tapi ya gimana, dianya ga membuka diri untuk menerima kritikan sih.

4. Hidup merantau akan mengajarkan kita hidup sederhana dan prihatin
This is so true! Hidup merantau akan merasa gimana kalau ga ada uang, gimana harus menghemat sampe uang dikirimkan lagi sama orang tua. Kita yang mungkin dulu hidup mewah perlahan akan berubah menjadi lebih sederhana. Well, ga semua orang siap berada di posisi sederhana. Karena mereka merasa akan rendah. Oh, WHAAATTTT??? Hidup sederhana bukan membuat kamu jadi rendah. Itu konsep yang salah menurutku. Buat apa sih malu karena cuma ga pake barang branded? Toh kamu juga punya tas yang harganya 50ribu dan 500ribu bedanya apa? Fungsinya masih sama kan? Yang ngebedain adalah PRIDE and PRESTIGE! Oh My Godness! Itu tinggal di elunya aja sih, mau beli tas ngeliat dari fungsi atau pride and prestigenya. Kalau aku sih lebih milih fungsi. Beli tas mahal cukup satu aja, kalau banyak banget buat apa, di luar sana masih banyak yang ga makan sedangkan aku ngebuang duit untuk beli tas mahal. Ahhhh, rasanya bersalah banget. Aku mesti belajar konsep give, give, and give.. Bisa aja take-nya entar pas udah hari yaumul hisab. Kita takut sama konsep give, give dan give, kita takut miskin. Itu sih masih yang belum bisa move on dalam hati, ya kan? Harus keluar dari zona itu! Hidup merantau juga mengajarkan aku buat ga pilih-pilih makanan. Makan aja apa yang ada asal halal. Mau ngrepotin orang tua buat ngirimin paket dari Aceh ke sini? Ya Allah, ngrepotin lagi orang tua. emang sih orang tua ga ngeluh, tapi kita harus peka dong. Ini masa tua mereka, saatnya kita yang give and give buat mereka. Mau sampe kapan ngerepotin orang tua? Wow, balik lagi, hidup elu ya pilihan elu, elu milih buat teru-terusan ngerepotin orang tua dan ga belajar mandiri atau elu takuut untuk mandiri dan ga siap untuk kondisi GA PUNYA APAPUN! Aku mencoba untuk ga takut apapun, mencoba untuk yakin kalau ALLAH akan selalu nolong aku dimanapun aku berada. Aku malah lebih takut saat Allah lupa sama aku dan ga melihat aku, saat Allah berhenti menegur aku saat aku berbuat kesalahan.

Ahh,,ini hanya sekelumit pengalaman merantauku. Ada banyak hal yang terjadi saat aku berada di perantauan. Bertemu banyak orang, ada banyak pengalaman hidup, aku juga bisa melihat teman-teman yang lulus seleksi alam. Hahaha.. Jelasnya, aku bersyukur banget sama Allah dipertemukan dengan orang-orang demikian sehingga aku bisa belajar banyak hal. Setidaknya aku bisa mencoba mencegah sifat-sifat orang yang gak baik menempel di hatiku. Smoga Allah jauhkan segala sifat buruk dari diri aku. Smoga orang-orang yang merantau lebih menghayati lagi ya perjalanan hidupnya sehingga bisa lebih banyak belajar. Ini juga reminder buat diri aku sendri tentunya. See you di postingan selanjutnya yaaaa